Wednesday, January 30, 2013

Wisata Kuliner Solo Part 2 : Mr. Mesem :)




Eitss... jangan salah paham, Mr.Mesem itu bukan nama orang tapi nama tempat makan, hehehe. Kata "mesem" diambil dari bahasa Jawa yang berarti tersenyum :) 

Aku tau tempat ini dari sang pacar yang lumayan sering ngajakin makan siang di sini. Dari pertama nyoba, langsung deh ketagihan pengen makan di sini terus, hahaha :D

Mr. Mesem (spesial goreng dan penyet) terletak di Jalan Dr. Wahidin no. 51, Penumping, Solo, Jawa Tengah,  di depan sebuah SD (nama SD nya lupa). Tempat makan berkonsep lesehan ini menyediakan berbagai menu, tapi yang jadi favoritku adalah ayam goreng tulang lunak, sooo yummy!! :D 

Tuesday, January 29, 2013

Wisata Kuliner Solo Part 1 : Es Krim Tentrem




Kali ini aku mau bahas tentang hal yg belum pernah dibahas di blog ini, yaituuu... KULINER!! :D
Well, tadi siang aku sama cowokku mampir nyobain es krim di Kedai Ice Cream Tentrem di Jalan Urip Sumoharjo no.97  Solo, Jawa Tengah. Dari Balai Kota Surakarta (arah dari Jalan Jendral Sudirman) belok kanan, ada perempatan (ditengahnya ada tugu jam besar), belok kiri, lurus nanti kedainya kiri jalan.

Menunya bervarisasi, dari berbagai jenis kreasi ice cream, terus ada float juga, grape float misalnya. Dengan harga mulai dari Rp. 8000 – Rp. 10.000. Menu yang paling baru kayaknya Rainbow ice cream, tapi aku nggak mesen itu karena nggak ada ice cream vanillanya :(  (secara warna pelangi kan nggak ada putihnya : mejikuhibiniu..). Setelah lihat-lihat buku menu (cukup lama) akhirnya pilihanku jatuh pada “Mr.Clown” dan si pacar mesen “Tutty Fruity”. Ini dia ice cream nyaaa.. :D

Saturday, July 21, 2012

Novel Memori by Windry Ramadhina


Tentang cinta yang tak lagi sama...
Miring

Setelah diprotes oleh beberapa teman blogging di twitter karena blogku sekarang jadi sepi banget katanya, akhirnya kuputuskan untuk membuat review ini, hehehe ^^

Untuk detail buku klik di sini. Tengok dulu sinopsisnya...

Cinta itu egois, sayangku. Dia tak akan mau berbagi.

Dan seringnya, cinta bisa berubah jadi sesuatu yang jahat. Menyuruhmu berdusta, berkhianat, melepas hal terbaik dalam hidupmu. Kau tidak tahu sebesar apa taruhan yang sedang kau pasang atas nama cinta. Kau tidak tahu kebahagiaan siapa saja yang sedang berada di ujung tanduk saat ini.

Kau buta dan tuli karena cinta. Kau pikir kau bisa dibuatnya bahagia selamanya. Harusnya kau ingat, tak pernah ada yang abadi di dunia—cinta juga tidak. Sebelum kau berhasil mencegah, semua yang kau miliki terlepas dari genggaman.

Kau pun terpuruk sendiri, menangisi cinta yang akhirnya memutuskan pergi.



Plot
Alur yang digunakan adalah alur campuran (maju-mundur)


Point of View
Sudut pandang yang digunakan adalah orang pertama sebagai pelaku utama.


Tokoh dan Penokohan
Mahoni
Wanita ini bekerja sebagai arsitek di Virginia. Mahoni cukup menikmati kehidupannya di Virginia—meninggalkan semua kenangan pahitnya di Jakarta. Kedua orangtuanya telah lama bercerai. Sifatnya berpendirian teguh dan pekerja keras.

Simon Marganda
Lelaki tampan tapi sinis yang suka mengenakan celana jeans belel dan kaus berlogo merk cat ini adalah “teman” kuliah Mahoni di Universitas Indonesia jurusan arsitektur. Setelah lulus kuliah, ia melanjutkan studinya di DELF, Belanda. Saat kembali ke Indonesia, Simon mendirikan sebuah biro arsitek bersama kekasihnya.

Sofia
Wanita yang anggun dan cantik ini adalah kekasih Simon. Mereka bertemu di DELF, Belanda, kemudian berpacaran. Sekembalinya ke Indonesia, Sofia dan Simon mendirikan biro arsitek mereka sendiri, yaitu MOSS.

Sigi
Lelaki remaja yang masih duduk di bangku SMA ini adalah adik tiri Mahoni. Hasil pernikahan antara papa Mahoni dengan Grace (mama tiri Mahoni). Sebelumnya Sigi dan Mahoni tidak pernah bertemu, sampai keadaan mengharuskan mereka untuk saling bertatap muka.

Guruh
Guruh adalah papa Mahoni. Ia adalah seorang perajin mebel yang memiliki bengkel sendiri di pekarangan rumahnya. Dalam ingatan masa kecil Mahoni, Guruh adalah papa yang baik, penyayang dan penyabar. Namun perceraian kedua orangtuanya membuat penilaian Mahoni terhadap papanya berubah.

Grace
Wanita yang lembut dan penyabar ini adalah istri kedua Guruh, yang otomatis menjadi mama tiri Mahoni. Grace bertemu dengan Guruh di sebuah galeri mebel. Saat itu Mahoni juga ikut. Namun karena ia masih kecil, Mahoni tidak menganggap aneh keakraban yang terjalin antara papanya dan Grace.

Mae
Wanita ini adalah mama kandung Mahoni. Ia bekerja sebagai penulis novel. Sifatnya cenderung mudah marah dan egois. Sejak SMA, Mahoni sudah tidak memanggilnya dengan sebutan “mama” lagi, karena Mahoni menganggap sifat "ibu" dari diri Mae telah lama menghilang. Saat mengetahui suaminya telah jatuh cinta pada wanita lain, Mae mengajak Mahoni meninggalkan rumah mereka di Jakarta, kemudian menuju ke sebuah apartemen di Bandung. Lama kelamaan Mahoni merasa tidak sanggup jika harus tinggal bersama ibunya yang menjadi labil, selalu menangis dan marah-marah setiap malam. Mae tidak sadar bahwa ia telah memasukkan Mahoni dalam dunia kesedihannya.

Om Ranu
Lelaki paruh baya ini adalah adik dari papa Mahoni. Beliau tinggal di Yogya untuk mengurus istrinya yang sedang sakit parah. Mereka tidak mempunyai anak. Namun saat insiden kecelakaan itu terjadi, Om Ranu menyempatkan diri berkunjung ke Jakarta.

Ron
Ron digambarkan sebagai pria tampan dan kharismatik tapi juga tipe perayu dan playboy. Ia adalah atasan sekaligus teman kerja Mahoni di Virginia. Ron bahkan selalu memanggil Mahoni dengan sebutan “Honey”. Ia mengganti suku kata terakhir nama Mahoni yaitu “Honi” menjadi “Honey”. Hahaha.. #LOL


Jalan Cerita
Kisah dimulai saat Mahoni gagal memenangkan sebuah proyek pembangunan rumah di Virginia. Mahoni memang sangat berpendirian teguh dalam hal konsep desainnya, ia tidak mau menuruti begitu saja keinginan klien. Sampai di kantor, Ron—teman sekaligus atasan Mahoni di kantor berusaha menghiburnya dan sedikit merayunya (tapi nggak pernah mempan, hahaha). Mahoni menikmati kehidupannya di Virginia. Di negeri ini, ia membangun kariernya mulai dari bawah, sampai sekarang ia telah cukup sukses dengan menangani proyek-proyek berskala besar.

Sampai, suatu hari Mahoni menerima sebuah kabar duka dari Jakarta. Papanya dan Grace (mama tiri Mahoni) meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Malam itu juga, Mahoni langsung pulang ke Jakarta setelah mendapat izin cuti dari Ron. Mahoni merasa sedikit menyesal karena telah mengabaikan semua surat dan telepon dari papanya. Semenjak kedua orangtuanya bercerai, Mahoni memang sengaja menarik diri dari mereka.

“Papa, demikian aku memanggil lelaki itu, sosok usang yang kusisihkan dari hidupku selama belasan tahun.” Hal 14

Mahoni tiba di Jakarta menjelang senja. Ia disambut oleh Om Ranu (adik papanya). Ternyata Mahoni terlambat karena pemakaman papanya dan Grace telah selesai sejak siang tadi. Ia bergegas masuk ke kamar untuk meletakkan barang-barangnya dan beristirahat sejenak sebelum pergi ke makam. Setelah itu, Mahoni berniat mencari hotel karena ia merasa tidak sanggup jika harus serumah dengan adik tirinya, Sigi.

Saat di makam, Mahoni bertemu dengan mamanya, Mae. Ia sempat bercakap-cakap sebentar dengan Mae. Sampai di rumah, Om Ranu mengajaknya bicara. Beliau meminta Mahoni tinggal sementara waktu di Jakarta untuk mengurus Sigi. Om Ranu tidak bisa mengurusnya karena ia harus menjaga istrinya yang sedang sakit parah di Yogya, dan mereka juga tidak mempunyai anak. Awalnya Mahoni berkeras tidak mau, namun setelah dibujuk oleh Om Ranu, ia mengiyakan permintaan itu.

Besoknya, Mahoni pergi ke Mall untuk membeli barang-barang kebutuhannya selama ada di Jakarta. Saat melewati sebuah kafe, ia terkagum-kagum dengan desainnya. Mahoni memasuki kafe itu dan bertanya siapa arsiteknya—yang ternyata adalah Simon—“teman” lama Mahoni. Di sana Mahoni juga bertemu dengan Sofia yang ternyata adalah kekasih Simon. Mahoni dan Simon berbincang-bincang sejenak, lalu Simon menawari Mahoni untuk bekerja di studionya. Mahoni bilang akan pikir-pikir dulu. Tapi akhirnya ia menerima tawaran itu dan mulai bekerja bersama Simon dan Sofia.

Awalnya hubungan antara Mahoni dan adik tirinya—Sigi—tidak begitu baik. Mahoni memendam rasa benci dan iri yang begitu besar untuk anak itu. Sigi memiliki apa yang tidak dimilikinya, yaitu sebuah keluarga. Terlebih saat ia melihat wajah Sigi, ia akan langsung teringat pada Grace—wanita yang telah merebut papanya. Padahal sebelum Grace hadir di kehidupan mereka, kedua orangtua Mahoni memang tidak pernah akur. Mahoni yang saat itu masih kecil, tidak menyadari hal ini. Seiring berjalannya waktu, hubungan antara Mahoni dan Sigi mulai membaik. Percakapan antara keduanya tak lagi canggung, dan mereka sudah bisa makan bersama dalam satu meja. Sigi juga melakukan beberapa hal yang membuat Mahoni merasa tersentuh. Tanpa disadarinya, Mahoni mulai menyayangi Sigi dan menganggapnya seperti adik kandungnya sendiri. Sigi juga mulai menyayangi Mahoni. Mereka menjadi saling membutuhkan satu sama lain.

Sampai pada suatu hari, Mahoni menerima tawaran kerja dari Frank O Gehry (arsitek yang diidolakan Mahoni sejak kuliah) di Virginia. Ini adalah cita-citanya sejak dulu. Tapi akhirnya Mahoni menolak tawaran itu, walaupun ia sangat ingin bekerja bersama idolanya itu. Ia merasa tidak sanggup jika harus meninggalkan Sigi sendirian di Jakarta. Mahoni dan Sigi sempat mengunjungi Om Ranu di Yogya untuk meminta bantuan, namun beliau tidak bisa berbuat banyak karena kondisi istrinya semakin parah. Sigi berulang kali meyakinkan Mahoni bahwa ia akan baik-baik saja jika harus harus tinggal sendirian di Jakarta. Namun Mahoni tetap tidak mau meninggalkan Sigi sendirian. Setelah benar-benar menolak tawaran itu melalui Ron sekaligus berkata pada Ron bahwa ia tidak akan kembali ke Virginia, Mahoni merombak habis-habisan rumah papanya. Ia mengganti cat dan semua furniture rumah itu, seakan ingin membuang semua kenangan pahit bersamanya. Jika harus tinggal lama di Jakarta, Mahoni ingin merasa nyaman. Setidaknya sampai Sigi lulus SMA dan berkuliah.

Di sisi lain, masa lalu antara Mahoni dan Simon mulai menyeruak. Yup, dulu mereka berpacaran. Simon memang tidak pernah “menembak” Mahoni secara langsung, tapi saat Mahoni meminta kejelasan darinya, Simon bilang ia serius dengan Mahoni. Sampai saat wisuda Simon memberitahu Mahoni bahwa ia akan melanjutkan studinya di Belanda. Mahoni kaget karena Simon baru memberitahunya hari itu. Simon mengajak Mahoni ikut ke Belanda, tapi Mahoni menolak. Kemudian mereka berpisah tanpa ada kata "putus" diantara mereka.

Seperti kata pepatah Jawa, “Witing tresno jalaran soko kulino” (tumbuh cinta karena terbiasa) *abaikan* intensitas pertemuan Mahoni dengan Simon yang semakin rutin mau tak mau membuat perasaan sayang Mahoni kembali muncul. Baru Mahoni sadar, ia memang masih mencintai Simon. Namun Mahoni tidak bisa mengabaikan keberadaan Sofia sebagai kekasih Simon. Terlebih Sofia juga selalu bersikap baik pada Mahoni. Akhirnya, Mahoni berusaha memendam perasaannya itu.

Hingga akhirnya Simon menyatakan bahwa ia masih mencintai Mahoni. Simon bertanya apakah Mahoni juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Mahoni bimbang, ia memang masih mencintai Simon, tapi bagaimana dengan Sofia? Dan Mahoni juga takut ia akan menjadi Grace. Karena jika Mahoni mengatakan yang sebenarnya, berarti ia telah merebut kekasih orang lain. Semua bertambah rumit saat Mae tahu bahwa selama ini Mahoni tinggal di Jakarta untuk mengurus Sigi. Mae marah besar dan merasa Mahoni telah mengkhianatinya karena bersedia merawat anak Grace. Mahoni berusaha menjelaskan keadaannya, tapi Mae sulit mengerti.


Penilaian
Akhirnya, setelah If I Stay dan Where She Went, kutemukan lagi sebuah kisah cinta yang sedih tapi nggak menye-menye. Beberapa adegan masa lalu yang di selipkan di beberapa bab terasa pas sehingga alurnya menyatu. Sudut pandang orang pertama yang digunakan penulis membuat kita bisa menyelami lebih dalam karakter tokoh Mahoni. Bahkan, di beberapa bagian, aku merasa menjadi Mahoni, sehingga air mata ini tak dapat dibendung lagi... kemudian jebol dan banjir bandang. *oke agak lebay dikit* :p Keunikan novel ini ada pada nama tokoh Mahoni dan Sigi (Sigi artinya kayu damar) mungkin diselaraskan dengan papa mereka yang menyukai kayu.

Novel ini cukup banyak membahas hal-hal seputar arsitektur, lumayan buat nambah-nambah pengetahuan. Dan, meskipun ceritanya memang sedih, tapi happy ending kok :D. Kelemahannya mungkin hanya pada typo yang cukup menganggu proses membaca. Itu lah salah satu kelemahan novel-novel terbitan Gagas Media. Semoga hal ini bisa diperbaiki (khususnya untuk pihak editor) sehingga untuk novel-novel berikutnya jumlah typo bisa berkurang, kalau bisa tidak ada typo sama sekali. :p Ah, ya. Untuk halaman 297-301 cetakannya miring. Jelas ini sangat menganggu kenyamanan membaca. Kalau soal sinopsis dan cover, memang Gagas Media jagonya :D Rating: 4/5


My Favorite Quote

Nostalgia akan membuat siapa pun menjadi lemah dan tanpa sadar memaafkan kesalahan yang paling besar sekalipun.
Hal 19

Sederhana. Mereka menjadi keluarga, sesuatu yang tidak pernah benar-benar kumiliki. Hal 54

Dia menginginkan sesuatu yang pernah kami miliki, sesuatu yang rupanya masih dia simpan baik-baik seperti sketsa usang itu.
Hal 244

Tetapi, aku tidak ingin terus menerus hidup dalam kemarahan dan kebencian. Hal 290




Regards,

=R=

Saturday, May 12, 2012

Novel Bayangan di Cermin (Mirror Image) by Sandra Brown

Ketika kau terjebak dalam kehidupan wanita lain...

Sampul Depan


Nah, kalo dibentangkan gitu lumayan keren ya, cover-nya.
Agak misterius gimanaaa gettuu. :p


Hmm, udah lama nggak baca novel yang ada unsur pembunuhan dan detektifnya. Seneng banget rasanya waktu dapet novel ini dari Papa. :D Dulu, novel yang sering kubaca adalah novel seri detektif karya S. Mara G.D. Seru banget tuh. Aku suka baca sambil menebak-nebak siapa penjahat sebenarnya. Dan sampai detik ini, tebakanku hampir tidak pernah meleset. :D
Untuk detail buku (ISBN, ukuran, tebal, harga buku, dan lain-lain) silakan klik di sini.
Ini dia review-nya, enjoy ya! :)


Plot
Alur yang digunakan adalah alur maju.


Point of View
Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga serba tahu.


Tokoh dan Penokohan
Avery Daniels
Wanita ini bekerja sebagai reporter TV, namun belakangan ia dipecat karena melakukan sebuah kesalahan yang fatal saat sedang melaporkan sebuah berita. Karier yang sudah dibangunnya dengan susah payah hancur begitu saja, dan ia kehilangan citra baiknya sebagai seorang reporter. Avery bernasib malang karena berada pada sebuah pesawat yang meledak sesaat setelah mengudara. Parahnya, karena suatu hal, ia diidentifikasi sebagai Carole Rutledge.

Tate Rutledge
Pria tampan, pintar, kaya, dan berkharisma ini adalah calon senator Amerika Serikat sekaligus suami dari Carole Rutledge. Begitu mendengar kabar bahwa pesawat yang ditumpangi istri dan anaknya mengalami kecelakaan, ia langsung panik dan bergegas menuju rumah sakit. Tate lega setelah mengetahui bahwa ‘istri’ dan anaknya selamat dari kecelakaan tragis itu. Meskipun Tate sangat membenci Carole karena pria itu tahu bahwa istrinya selingkuh, Tate tetap bertanggung jawab dan merawat 'Carole'.

Carole Rutledge
Wanita cantik ini adalah istri dari Tate Rutledge. Carole adalah sosok wanita yang egois, tidak pernah memperhatikan keluarganya, dan suka berselingkuh dengan banyak pria. Parahnya, Carole memang sengaja memperlihatkan perselingkuhan itu kepada Tate. Ia juga tidak pernah memperhatikan anaknya. Dia hanya suka pergi ke salon, berbelanja, dan berselingkuh. Carole tewas dalam kecelakaan itu. Namun, mayatnya yang sudah hangus terbakar diidentifikasi sebagai Avery Daniels.

Mandy Rutledge
Anak yang berusia tiga tahun ini adalah putri Tate dan Carole. Gadis kecil ini ikut bersama ibunya dalam pesawat yang mengalami kecelakaan itu, tapi akhirnya Mandy berhasil diselamatkan Avery. Setelah luka-luka fisiknya sembuh, diketahui Mandy mengalami trauma berat akibat peristiwa itu.

Nelson dan Zee Rutledge
Nelson adalah ayah dari Jack dan Tate. Ia adalah sosok yang disiplin dan tegas. Setelah pensiun sebagai penerbang, Nelson membuka sebuah peternakan. Sedangkan Zee adalah ibu dari Tate dan Jack. Ia seorang wanita yang lembut dan penyabar.

Jack Rutledge dan Dorothy Rae
Keduanya adalah sepasang suami istri. Sayang, kehidupan perkawinan mereka sama sekali tidak bahagia. Jack adalah kakak Tate sekaligus anggota dari tim kampanye Tate. Sedangkan Dorothy adalah sosok wanita yang memiliki ketergantungan terhadap alkohol. Yups, setiap hari dia suka minum-minum sampai mabuk. Dorothy selalu menuduh Carole sebagai penyebab rusaknya pernikahannya dengan Jack. Ia menuduh Jack berselingkuh dengan Carole. Tapi Jack selalu membantahnya, dan pertengkaran pun tak terhindarkan.

Francine Rutledge (Fancy)
Remaja cantik ini adalah putri dari Jack dan Dorothy. Fancy tumbuh menjadi gadis yang suka membangkang dan bertingkah seenaknya sendiri. Ia suka kebut-kebutan, mabuk, mengisap ganja, dan tidur dengan pria manapun yang ia sukai. Bahkan kedua orangtuanya sudah menyerah untuk mengendalikannya. Fancy bersikap seperti itu untuk menarik perhatian orang-orang di sekelilingnya. Ia merasa tidak ada orang yang menyayanginya.

Eddy Paschal
Pria tampan dan berkharisma ini adalah sahabat baik Tate sejak kuliah sekaligus manajer kampanye Tate. Eddy sudah dianggap menjadi bagian dari keluarga Rutledge. Ia menjadi salah satu pria ‘incaran’ Fancy, meskipun Eddy lebih pantas menjadi seorang ayah baginya daripada menjadi seorang kekasih. Penolakan Eddy terhadap Fancy secara terus menerus membuat gadis itu geram. Fancy kemudian menuduh Eddy ada main dengan Carole, yang tentu saja selalu dibantah Eddy.

Irish McCabe
Lelaki yang menginjak usia senja ini sudah dianggap Avery sebagai ayahnya sendiri. Kepada Irish lah Avery mengungkapkan permasalahan yang sedang ia hadapi dan meminta bantuannya. Awalnya Irish menolak membantu dan berkeras agar Avery mengakui jati dirinya pada semua orang. Namun setelah dibujuk Avery, akhirnya pria itu bersedia membantu, meskipun dengan sedikit enggan. Walau pun selama ini Irish menyembunyikan fakta bahwa ia mencintai ibu Avery yang sudah lama meninggal—Rosemary Daniels—tapi akhirnya Avery mengetahuinya juga. Avery sama sekali tidak keberatan.

Van Lovejoy
Pria bertubuh kurus ini adalah kamerawan sekaligus sahabat karib Avery. Ia sama terpukulnya dengan Irish sewaktu menerima kabar bahwa Avery sudah tewas dalam kecelakaan itu. Namun saat ia mendapat tugas untuk meliput di kediaman keluarga Rutledge, ia sudah mulai curiga pada Carole. Dan instingnya memang tepat, Carole yang sekarang adalah Avery. Van sangat membantu Avery, dengan kecerdikannya dan koleksi video yang dimilikinya. Kuberi sedikit bocoran ya, Van akhirnya meninggal… Huhuhuhuhu…. T.T Aku sampe nangis parah banget di bagian Van meninggal. Kenapa aku bisa nangis parah gitu? Karena aku menyukai tokoh Van. Sangat amat nge-fans berat sekali *hiperbola*. Well, sudah lama aku tidak menemukan karakter tokoh seperti Van dalam novel-novel yang belakangan kubaca. Dia misterius dan cool. Dia cuek, tapi sangat penyayang dan peduli terhadap orang yang dianggapnya berarti. Dia suka minum, tapi sangat cerdik dan penalarannya sangat bagus. Dia tukang molor, tapi bisa terjaga semalam suntuk demi mencari petunjuk yang berguna bagi Avery. Dia perokok berat, namun memiliki insting yang sangat tajam. Intinya, dia selalu punya sisi positif dibalik sisi negatif dalam dirinya. Dan hanya orang-orang tertentu yang beruntung yang bisa melihat sisi baik seorang Van. :’)


Jalan cerita
Semua bermula dari kecelakaan sebuah pesawat yang meledak sesaat setelah lepas landas. Tate Rutledge yang mendengar berita bahwa pesawat yang ditumpangi istri dan anaknya meledak, menjadi panik dan bergegas menuju rumah sakit. Di sana ia mendapati ‘istrinya’ mengalami luka bakar yang cukup parah sehingga seluruh tubuhnya diperban. Hanya salah satu matanya yang tidak dibalut perban. Tulangnya juga patah di beberapa bagian. Dokter bilang wajah istrinya rusak parah dan harus menjalani operasi plastik segera setelah keadaannya membaik dan siap untuk menjalani pembedahan. Tanpa pikir panjang, Tate setuju dan beberapa hari kemudian menyerahkan foto Carole Rutledge untuk menunjukkan wajah istrinya itu kepada dokter bedah. Sedangkan putrinya—Mandy—tidak mengalami luka fisik yang parah.

Di sisi lain, Avery sangat ketakutan. Ia merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya, juga bingung. Semua orang selalu menyebutnya Carole, atau Mrs. Rutledge. Padahal ia bukan Carole, ia adalah Avery. Avery ingin berteriak memberitahu kesalahan identifikasi itu, tapi tidak bisa. Pita suaranya terganggu, tubuhnya juga tidak bisa digerakkan sama sekali. Akhirnya, setelah beberapa hari, Avery mengingat kronologi saat ia keluar dari pesawat yang sudah terbakar itu.

Ketika pesawat sudah penuh dengan asap, ia berhasil membuka sabuk pengamannya. Ia melihat seorang anak kecil yang duduk di samping kanannya, yang sedang panik dan ketakutan, berteriak-teriak memanggil ibunya. Ibunya—Carole—duduk di sebelah kanan anak itu, dekat jendela. Sebenarnya itu adalah tempat duduk Avery, tapi mereka bertukar tempat duduk. Dengan dibantu Carole, Avery berhasil melepaskan sabuk pengaman Mandy dan membawa anak itu keluar dari pesawat. Setelah itu Avery tidak mengingat apa pun lagi. Kini ia sadar, mungkin karena itulah dia dikira Carole, dan karena mereka juga bertukar kursi. Ia bertekad memberi tahu Tate secepat mungkin, tapi ia sadar ia tidak akan bisa tepat waktu. Operasi itu akan segera dimulai, dan saat keluar dari ruang bedah, wajahnya akan berubah menjadi wajah Carole.

Selama Avery menjalani perawatan, Tate selalu menjenguknya secara berkala. Menyemangatinnya, memberitahu ‘istrinya’ bahwa ia tak perlu khawatir karena wajahnya akan kembali seperti semula, bahkan menjadi lebih cantik dan tampak lebih muda (Tate tidak tahu kalau orang yang dianggapnya sebagai istrinya adalah Avery). Meskipun begitu, Avery tetap bisa merasakan bahwa Tate sebenarnya sangat membenci Carole. Tate bersikap baik dan sopan pada Avery. Tapi Tate juga bersikap ketus dan menjaga jarak. Avery belum tahu mengapa Tate bersikap seperti itu pada ‘istrinya’ sendiri.

Suatu malam, seseorang mendatangi ruang ICU Avery dan membisikkan sesuatu padanya. Orang itu mengira Avery adalah Carole. Seseorang itu berkata bahwa rencana mereka untuk membunuh Tate akan tetap berjalan. Tate akan mati sebelum sempat menjalankan tugasnya sebagai senator. Avery sangat terkejut. Ia tidak bisa melihat wajah orang itu karena seluruh tubuhnya diperban, termasuk salah satu matanya. Sedangkan orang itu berdiri dibelakang bahunya. Avery sadar, bahwa nyawa Tate dan nyawanya sendiri terancam bahaya. Kalau sampai orang itu tahu bahwa ia bukan Carole, sudah pasti orang itu akan membunuh Avery. Maka, dengan terpaksa ia membiarkan kesalahan identifikasi itu. Avery memutuskan bahwa untuk sementara ia harus menjadi Carole, demi melindungi Tate dan nyawanya sendiri.

Dan dimulai lah kehidupan Avery sebagai istri dari calon senator Amerika Serikat. Sebagai seorang ibu dengan anak yang mengalami trauma berat. Sebagai istri yang dibenci Tate. Sebagai Carole Rutledge. Avery berusaha menyesuaikan diri dengan anggota keluarga Rutledge yang lain. Dokter sudah memberi tahu mungkin ada sedikit masalah ingatan yang akan menganggu. Avery justru senang, karena hal itu dapat digunakan sebagai alasan kalau ia melakukan kesalahan saat berperan sebagai Carole.

Avery tinggal bersama keluarga besar Rutledge di sebuah rumah peternakan yang besar dan megah. Di sana ia mengenal beberapa anggota keluarga lainnya. Ada Nelson—ayah Tate, Zee—ibu Tate, Jack—kakak Tate, Dorothy—istri Jack, Fancy—putri Jack dan Dorothy, serta Eddy—sahabat Tate yang sudah dianggap menjadi bagian dari keluarga Rutledge yang juga tinggal di rumah itu. Avery terus berusaha memerankan sosok Carole sebaik mungkin seraya mencari petunjuk dan menebak-nebak siapa dari anggota keluarga Rutledge yang bersekongkol dengan Carole untuk membunuh Tate dan mendatanginya di ruang ICU malam itu. Ia yakin bahwa orang itu adalah salah satu keluarga Tate, karena memang hanya pihak keluarga yang diperbolehkan masuk ruang ICU.

Saat ia merasa tidak kuat untuk menanggung semuanya sendiri, ia mendatangi Irish—sabahat kedua orangtuanya yang sudah meninggal—dan menjelaskan tentang semuanya. Awalnya Irish tidak percaya, tapi akhirnya ia luluh juga. Irish mengaku mengenali Avery dari matanya. Awalnya Irish menyarankan Avery untuk membuka jati dirinya pada keluarga Rutledge dan melapor pada polisi. Namun Avery menolak dengan tegas. Akhirnya, setelah dibujuk Avery, Irish mau juga membantunya. Tak lama, Van juga telah mengetahui jati diri Avery yang menyamar sebagai Carole. Ia sudah mencurigainya saat ia diberi tugas untuk meliput aktivitas keluarga Rutledge. Dan ternyata kecurigaannya benar. Akhirnya, setelah diberi penjelasan oleh Avery dan Irish, Van mengerti dan bersedia membantu. Jadi, mereka bertiga (sebagai detektif amatiran, hahaha :D)—Avery, Irish, dan Van—berusaha mencari petunjuk untuk mengetahui siapa penjahat itu.

Avery menyadari, ditengah-tengah peran yang sedang dimainkannya, ia jatuh cinta pada Tate. Juga kepada Mandy, putri Tate dan Carole. Namun Avery tahu, Tate sangat membencinya karena Tate mengira ia adalah Carole. Tate menganggap Avery wanita murahan dan tukang selingkuh. Tapi ada lagi satu hal yang membuat Tate sangat membenci Carole. Tate bersumpah tidak akan pernah memaafkan Carole untuk yang satu itu. Avery sangat tersiksa. Ia terjebak sebagai Carole yang sangat dibenci Tate dan jatuh cinta pada pria itu. Avery berusaha keras untuk meyakinkan Tate bahwa ia bukan wanita yang dulu lagi, ia sudah berubah. Namun tetap saja Tate tidak akan mudah mempercayainya. Sedangkan waktu yang dimiliki Avery terus menipis, karena tanpa disadarinya, si penjahat yang telah bersekongkol dengan Carole itu mulai mengetahui jati diri Avery….

Berhasilkah Avery meyakinkan Tate bahwa ia benar-benar mencintainya?
Bagaimana reaksi Tate saat mengetahu jati diri Avery?
Dapatkah Avery menemukan penjahat itu dan menggagalkan rencananya?
Yuk mari, dibaca novelnya. ^.^


Penilaian
Wow! Adalah satu kata yang kuucapkan setelah selesai membaca novel ini. Benar-benar seperti yang kuharapkan. Sudah lama aku tidak membaca novel yang mendebarkan seperti ini. Dari halaman pertama pun aku sudah dibuat merinding. Bagian klimaksnya TOP BGT buatku. Twist-nya berasa banget. Apalagi bagian-bagian akhir, saat pelakunya mulai terungkap. Jantung berdebar-debar, tangan-kaki dingin keringetan, guling kuremas, gelisah, dan akhirnya memekik kecil (gila aja kalo teriak, malem2, bo!) seraya menutup mulut dengan sebelah tangan saat pelakunya benar-benar terungkap.

And, d*mn!! Tebakanku meleset!!! Sh*t!!! Aku benar-benar tertipu. Telak abis. Penipuan karakter yang dibangun Sandra Brown sukses berat. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala tak percaya dibuatnya. Baru aku sadar, aku sangat merindukan sensasi membaca novel-novel seri detektif seperti ini (meskipun detektifnya si Avery dkk yang amatiran, haha :D). Uhh, Papa… thank you so much for gave me this novel. I like it very much… much… much… Hahaha. Sepertinya credit card-nya Papa tidak tergesek dengan percuma, hehehe :p.

Menurutku novel ini karya terbaiknya Sandra Brown yang pernah kubaca, jika kubandingkan dengan dua judul lainnya yang juga pernah kubaca, yaitu Long Time Coming (Kasih Setinggi Bintang), dan Two Alone (Biarkan Aku Mencintaimu). Dua novel itu hasil minjem dari perpus umum, hehehe (waktu itu masih nggak modal :p). Keduanya cukup oke, tapi Bayangan di Cermin bisa unggul karena sensasi mendebarkan saat menebak pelakunya, yang tidak kudapatkan dari dua novel tadi. Salut juga buat penerjemahnya. Bahasanya enak dibaca dan nggak kaku-kaku amat seperti novel terjemahan kebanyakan. Percakapannya mengalir lancar. Good, job!!! :)

Nggak ragu lagi deh. Lima bintang full buat novel ini!!! :)

Jadi pengin beli novelnya Sandra Brown yang lain, nih. Penasaran berat!! Yah, tapi harus nabung dulu kali ya. Secara, harga novelnya Sandra lumayan menguras dompet :p. Mungkin ada yang mau minjemin? Hahaha… *nggak mau ngeluarin duit* :D


My Favorite Quote
Nggak banyak sih quote yang bisa kudapat dari novel ini. Mungkin karena Mirror Image bukan jenis novel yang terpaku pada cerita cinta aja kali ya. :p

“… Biasanya bila seseorang nyaris tewas, dia mengalami masa dimana dia menginginkan hal yang baik-baik… Dalam waktu sesaat itu, mereka membayangkan apa yang mungkin hilang dari tangan mereka, mereka merasa bersalah karena tidak menghargai orang-orang yang mereka cintai, dan berjanji akan memperbaiki diri, menjadi manusia yang lebih baik.”—Nelson, hal. 144

“… Waktu dan kesabaran merupakan cara yang paling baik.”—Nelson, hal. 144

Rasa takut harus diakui, sebelum dapat ditangani dan dihilangkan. Hal. 272

“Ketulusan pribadimu tidak akan membiarkan dirimu menyalahgunakan siapa pun juga, Tate. Cita-cita yang kaukemukakan bukanlah sekadar kata-kata kosong dalam kampanye. Kau meyakininya.”—Avery, hal. 485

“Kalau begitu seharusnya kau tahu betapa pentingnya bagiku untuk menjadi diriku sendiri.”—Tate, hal 501

“Aku takut, Tate.”
“Takut bahwa aku akan kalah sebelum hari ini berakhir?”
“Tidak. Takut kau mati.”—Avery, hal 620 (Owww, so sweet ^.^ )





Regards,


=R=

Sunday, May 6, 2012

(Film) Malaikat Tanpa Sayap: Hidup nggak pernah mudah...

Saat kau harus memilih untuk pergi, atau ditinggal pergi...





Jenis Film : Drama
Produser : CHAND PARWEZ SERVIA
Produksi : PT. KHARISMA STARVISION PLUS
Sutradara : Rako Prijanto

Cast Pemain
Adipati Dolken - Vino
Maudy Ayunda - Mura
Surya Saputra - Amir (Ayah Vino)
Agus Kuncoro - Calo
Ikang Fawzi - Ayah Mura
Kinaryosih - Mirna (Ibu Vino)
Geccha Qheagaveta - Wina

Jalan Cerita
Vino (Adipati Dolken) tidak terlalu dekat dengan keluarga apalagi setelah papanya, Amir (Surya Saputra) bangkrut akibat ditipu rekan bisnisnya hingga mereka pindah dari perumahan elite ke rumah kontrakan di gang. Mamanya, Mirna (Kinaryosih) justru kabur dari rumah untuk berhubungan dengan pria lain, bahkan tega meninggalkan, Wina (Geccha Qheagaveta), putrinya yang masih kecil.

Suatu ketika Wina terjatuh di kamar mandi dan dari hasil rontgen Wina diharuskan menjalani operasi, kalau tidak kakinya infeksi dan harus diamputasi. Wina membutuhkan transfusi darah karena pendarahan, sementara golongan darah Wina cukup langka; A rhesus negatif. Vino yang mempunyai golongan darah yang sama, mengajukan diri. Saat itulah, Calo (Agus Kuncoro) yang sedang mencari pendonor jantung mendengar hal itu, kemudian menawari Vino untuk menjadi pendonor jantung karena ada resipien (calon penerima jantung) yang golongan darahnya sama dengan Vino.

Di rumah sakit itu pula Vino berkenalan dengan Mura (Maudy Ayunda). Sejak saat itu Vino merasa hidupnya berwarna. Vino yang awalnya sempat putus asa hingga bertransaksi dengan Calo, mulai goyah. Ia tidak mau mendonorkan jantungnya meskipun telah menerima sejumlah uang muka dari Calo. Hal itu membuat Calo marah besar. Terlebih Vino juga sudah menggunakan sebagian uang itu untuk membiayai operasi adiknya dan menebus rumah mereka yang telah disita pihak bank.

Vino sangat terkejut dan tidak percaya saat Calo memberitahu bahwa resipien jantung itu adalah Mura. Nah, keputusan apa yang akan diambil Vino? Nyawa siapa yang akan dipilihnya?

Penilaian
Film drama yang bagus dan nggak menye-menye. Penuh dengan pesan moral yang baik dalam menjalani hidup, dan semangat pantang menyerah. Buat yang mengira film ini sad ending, kalian salah besar. Ternyata kisah ini happy ending loh. Gimana bisa? Tonton aja filmnya :p. Dari awal aku udah nebak siapa yang bakal berkorban buat Mura, dan ternyata dugaanku tidak meleset, hahahaha.. :D Nice movie. :)

Salah satu adegan favoritku adalah saat Vino mengajak Mura ke sebuah pertunjukan seni lukis. Si pelukis itu menggunakan pasir yang dilukis di atas kaca. Ia melukis seraya bercerita. Berikut kutuliskan kisahnya, bagus loh. ^.^

Ada laki-laki bernama Amarah. Hidupnya penuh dengan kemarahan, seperti namanya. Hingga ia bertemu perempuan bernama Bening. Perempuan itu sebening embun, hingga Amarah dapat berkaca pada wajah Bening, sehingga amarahnya padam menjadi abu. Abu menempel pada daun, berharap dapat larut, menyatu dengan embun.

Tapi, alam tidak berpihak padanya. Bening mendadak sakit. Andai Bening tahu, Amarah ingin setengah sakit Bening diberikan kepadanya. Amarah mencegahnya, tapi Dewa Maut bersikeras. Bahkan Amarah menawarkan nyawanya. Ia bersedia menggantikan nyawa Bening. Cinta bukan masalah memiliki. Cinta adalah berani untuk pergi, atau ditinggal pergi.
(Yups, Amarah adalah Vino, sedangkan Bening adalah Mura.)

My Favorite Quote
Berikut kutuliskan juga beberapa quote favoritku, cekidot. :p

Dalam Hidup nggak ada jaminan buat terus bahagia. Nggak ada kepastian buat apa pun. Setiap orang bisa terlempar keluar dari kotak rasa nyamannya, secara tiba-tiba. –Vino.

Kita memang hidup dalam sekat-sekat, pengotakan, pelabelan. Dan saat label kita dicabut, kita bukan siapa-siapa lagi.—Vino

(Mura) “Aku nggak pernah ngerasa nggak punya temen. Kadang temen di dunia maya itu lebih real dari yang nyata.”
(Vino) “Berarti kamu eksis di dunia maya dong. Aku nggak yakin orang bisa punya temen beneran dari situ. Di dunia maya, kamu ngebiarin semua orang tahu tentang diri kamu, lewat status kamu. Tapi di dunia nyata, cuma sahabat kamu doang yang tahu kamu gimana.”
(Mura) “Rasanya nggak perlu jadi sahabat kamu buat bisa baca kamu….”

Persetan dengan pengkotak-kotakan. Sekat-sekat yang berdiri tegak diantara manusia. Toh hidup ini dunia nyamannya orang dewasa. Kita pura-pura tua untuk ngelewatinnya. Atau pura-pura jadi anak-anak buat ngehindarinnya.—Vino

“Dia tu kayak gini, Ra. Kamu tau sosoknya ada. Tapi ternyata nggak ada. Nggak ada gunanya sebagai orangtua.” (Vino saat menceritakan tentang ayahnya)
(Mura) “Ya mungkin seharusnya kamu yang coba membuatnya jadi lebih real.”
(Vino) “Loh, kenapa musti aku yang usaha? Kenapa nggak dia aja? Dan kenapa musti aku yang ngertiin dia?”
(Mura) “Kenapa juga harus dia yang ngertiin kamu?”

(Vino) “Ceritanya panjang. Yang jelas, hidup aku nggak semudah hidup kamu.”
(Mura) “Nggak ada hidup yang mudah.”
(Vino) “Sorry, Ra. Akhir-akhir ini aku suka pesimis, kalo ngomongin sekolah, hidup, sama masa depan.”
(Mura) “Baru akhir-akhir ini, kan? Nggak dari kecil kamu tahu kamu nggak bakalan punya masa depan.”

Terkadang untuk menjauhi temen yang kita sayang, kita justru bikin dia marah dan sakit hati. Agar saat kita pergi, kita nggak merasa terlalu kehilangan.—Vino

Kayak kematian, ya? Nggak punya jam, tapi tahu kapan harus dateng. Mungkin itu kenapa kematian itu bagian dari takdir. Dan waktunya udah ada. Kalo buat aku sih, kematian itu kayak ada di tikungan jalan, nggak pernah tahu apa yang ada dibalik tikungan itu. Dan mungkin, itulah saat kita mati.—Mura

Kadang kematian bisa jadi pilihan, Ra. Pada satu titik, pilihan terakhir bisa jadi kematian.—Vino

Yang paling sakit bagi seorang ayah, harus melihat anaknya lahir, tumbuh, terus harus melihat anaknya pergi duluan.—Ayah Mura

Kamu tahu, apa alasan aku bisa jatuh cinta sama kamu? Embun nggak perlu warna biar bisa bikin daun jatuh cinta, Ra. Sama Kayak aku, aku nggak punya alasan nggak jatuh cinta sama kamu.—Vino

Tapi buat aku dan Mura, waktu pernah mematahkan sayap-sayap kami. Dan waktu pula lah yang menyembuhkan, dan mengajari kami untuk tidak menyerah.—Vino


Gambar Cuplikan Adegan
(Hasil searching sama Om Gugel :p)























Regards,


=R=

Wednesday, May 2, 2012

Berbincang Bersama Pagi


Seseorang menepuk-nepuk dahiku perlahan. Aku mengerang dan membuka mata dengan sedikit kesal. Huft, terputuslah mimpi indahku itu. Aku bermimpi menjadi tokoh utama wanita dari novel yang kubaca semalam. Hahaha.. mungkin karena aku terlalu menghayatinya. :p

“Ayo bangun! Katanya mau nganter? Udah jam empat nih.”

Itu suara Mama. Yeah, bagaimana mungkin aku bisa lupa? Mama dan rekan-rekan sekantornya akan piknik ke Jogja hari ini, dan aku bertugas mengantar Mama ke kantornya (yang jaraknya sekitar 20 km dari rumah) untuk berkumpul. Sebenarnya aku juga ditawarin ikut, tapi ternyata organisasi karang tarunaku juga akan mengadakan piknik, dan saat rapat aku terpilih menjadi panitia (padahal waktu dateng rapat aku udah milih tempat duduk di pojokan agak belakang, dan nunduk-nunduk terus selama rapat. Tapi emang dasar nasib lagi apes atau karena Kak Andi—Ketua karang taruna—memang sangat jeli melihat kehadiranku, akhirnya namaku tercantum juga di daftar ‘keramat’ itu) akhirnya aku ikut piknik yang diadakan karang tarunaku pada awal bulan Juli nanti. Entah kenapa, pemikiranku memang selalu klop dengan Kak Andi, aku juga nyaman ngobrol sama dia, meskipun dia termasuk anggota senior. :)

Anyway, back to the story.

“Ayo bangun, nanti telat.” Suara Mama lagi tuh.

Aku hanya menarik selimut sampai hampir menutupi kepalaku, memejamkan mata lagi, dan bergumam pelan, “Lima belas menit lagi.” Nyatanya, tak sampai lima belas menit aku sudah menendang selimut dan gulingku, merangkak keluar tempat tidur, berjalan ke kamar mandi, lalu bergegas cuci muka, gosok gigi, dan berwudhu. Aku sadar kalau sampai Mama ketinggalan bus, dia pasti akan marah sekali. Kalau dia marah, dijamin aku nggak bakalan dikasih uang jajan. Kalau aku nggak dikasih uang jajan, wah celaka dua puluh!!!! Bukan, bukan karena aku nggak bisa jajan di kantin atau nggak bisa beli pulsa, atau nggak bisa beli bensin. Tapi karena aku nggak bakal bisa nabung buat… BELI NOVEL!!! *gubrakk* :D

Maka, dengan kesadaran penuh, aku bergegas menunaikan sholat subuh yang hanya dua rekaat (syukurlah, coba kalo dua puluh rekaat? Pingsan dong gue!! Hehehe,) kemudian ganti baju, menyesap teh hangat yang sudah dibuatkan nenekku, dan segera mengeluarkan motor untuk dipanaskan. Tak berapa lama, kami sudah ada di jalan. Mama yang memegang kendali motor. Sedangkan aku? Aku hanya membonceng di belakangnya dengan mata yang mulai mengantuk lagi karena angin subuh yang tanpa permisi membelai wajahku. Hmm, ternyata udara subuh sangat menyegarkan. Dingin, sejuk dan menenangkan. Tapi tetep bikin ngantuk sih. Hehehe.

“Nih, kalo mau sarapan. Ada donat.” Dengan tangan kiri, perlahan Mama mengangsurkan tas yang berisi bekal makanannya. Aku menerima tas itu, dan kutengok apa saja yang ada di dalamnya. Memang ada donat, tapi toping-nya abon. Yuks, aku nggak suka. Lalu ada roti kering, beberapa jenis keripik, sebotol air mineral, dan dua kaleng minuman bersoda. Hmm, melihat semua makanan itu justru membuat perutku terasa mual. Akhirnya kuangsurkan kembali tas itu kepada Mama.
“Nggak mau, donatnya rasa abon. Nggak doyan.”
“Kan ada yang cokelat.”
“Nggak ada kok.”
“Ada. Di bagian paling bawah.”
“Nggak, ah. Nggak enak makan subuh-subuh gini.”
“Ya udah,”

Beberapa saat kemudian kami melewati pasar. Wow, ternyata sudah sangat ramai. Suasananya menyenangkan. Melihat para pedagang dan pembeli saling tawar menawar harga, dengan diterangi lampu bercahaya orange yang menyela terang. Apik sekali. Sekitar dua puluh menit kemudian, kami melewati area persawahan dan perbukitan. Jalan mulai berkelok-kelok dan naik turun. Matahari sudah mulai menyembul nampaknya, dan langit sudah berubah warnanya, dari hitam legam menjadi biru tua. Terlihat kabut tipis menyelimuti jalanan yang masih terbilang sepi. Terlihat olehku beberapa orang yang berjalan dengan santai di pinggiran. Ada segerombolan ibu-ibu yang sedang bercengkrama heboh sambil menenteng tas belanjaan, ada seorang nenek yang berjalan perlahan, dan ada seorang kakek yang berjalan seraya memikul kayu bakar. Aku sadar, betapa banyak keindahan yang bisa kita lihat di waktu subuh, jika kita mau bangun lebih pagi (alih-alih tidur lagi setelah beribadah, wkwkwkwk.. siapa tuh? Hahaha..). Dan semua keindahan itu akan hilang jika sang surya sudah terlihat bertengger tinggi di langit. Dengan panas yang menyengat dan asap-asap kendaraan yang melintas (terutama asap bus-bus yang berwarna hitam pekat itu *hoek*).

Akhirnya, kami sampai di kantor Mama. Saat aku turun dari boncengan, kulihat Mama melambaikan tangan pada salah seorang rekan kerjanya yang juga baru sampai. Mama turun, dan menyerahkan kendali motor padaku. Aku sama sekali tak menangis, mungkin karena aku sudah terbiasa ditinggal kedua orangtuaku bekerja ke luar kota atau bahkan ke luar negeri dalam jangka waktu yang cukup lama. Kalau cuma ditinggal piknik sehari aja sih, no problem buatku. :p
Mama tersenyum padaku, kurasakan kedua mata teduhnya juga ikut terseyum.

“Hati-hati pulangnya. Jangan ngebut-ngebut. Udah nggak bingung lagi kan, jalannya?”

Aku mengangguk, sebagai jawaban atas perintahnya ‘hati hati dan jangan ngebut’ kemudian menggeleng untuk mengisyaratkan aku tidak bingung dengan jalan pulang yang harus kutempuh sendiri. Olala, sungguh terlalu kalo aku masih bingung juga. Tadi sebelum berangkat, Mama dengan senang hati sudah menggambarkan denah rute pulang ke rumah, kemudian
menjelaskannya berulang kali padaku dan menjejalkan denah itu ke kantong jaketku . Mungkin dia khawatir, karena aku belum pernah pergi sendiri sejauh itu. Paling pol cuma ke Solo Grand Mall, Gramedia, atau Togamas, hahaha. :D *nasib* ini dia denah yang digambar Mama…


Maaf ya, udah lecek tuh. Maklum, habis dilipat-lipat
dan dimasukkan ke kantong jaket. :p

Akhirnya, setelah bersalaman dan mencium tangan Mama, aku mulai melajukan motorku. Ke mana lagi? Tentu saja pulang, karena perutku sudah keroncongan dari tadi, minta diisi, kelaparan setengah mati. :p




Regards,

=R=

Thursday, April 26, 2012

Novel Where She Went (Setelah Dia Pergi) by Gayle Forman

Aku sudah melepaskannya.
Sungguh. Tetapi, dia ada di sini.

You crossed the water, left me ashore
It killed me enough, but you wanted more
You blew the bridge, a mad terrorist
Waved from your side, blew me a kiss
I started to follow but realized too late
There was nothing but air underneath my feet
BRIDGE
COLLATERAL DAMAGE, LAGU 4


Untuk detail buku (ISBN, ukuran, tebal, harga buku, dll) klik di sini.
Tengok dulu sinopsisnya …
Lanjutan If I Stay (Jika Aku Tetap Di sini)

Tiga tahun sudah berlalu sejak cinta Adam menyelamatkan Mia setelah kecelakaan yang memorakporandakan hidup gadis itu…

… dan tiga tahun sejak Mia pergi dari kehidupan Adam untuk selamanya.

Sekarang Mia bintang muda sekolah musik klasik Juilliard dan Adam bintang rock terkenal. Ketika Adam terjebak di New York sendirian, takdir mempertemukan mereka lagi, untuk satu malam terakhir.

Sambil menjelajahi kota yang sekarang menjadi rumah Mia, Adam dan Mia kembali mengunjungi masa lalu dan membuka hati untuk masa depan—serta satu sama lain.


Point of View
Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama (Adam).


Plot
Alur yang digunakan adalah alur campuran (maju-mundur).


Tokoh dan Penokohan
Adam Wilde
Cowok keren berusia 21 tahun ini sedang berada di puncak popularitas bersama bandnya, Shooting Star. Melalui album mereka, Collateral Damage—yang semua lagunya ditulis sendiri oleh Adam sebagai ungkapan rasa kecewa dan marah setelah ditinggalkan Mia tanpa penjelasan—membuat Shooting Star menjadi band yang sangat terkenal dan dipuja-puja banyak fans. Meskipun begitu, Adam tetap merasa hampa tanpa kehadiran Mia disisinya. Ia menjadi bergantung pada obat-obatan dan rokok. :’(

Mia Hall
Setelah selamat dari kecelakaan tragis yang dialaminya tiga tahun lalu, Mia telah menjelma menjadi seorang pemain cello yang cukup terkenal lulusan Juilliard. Tiket konsernya selalu terjual habis. Kini, Mia menetap di New York, meninggalkan kakek-neneknya di Oregon, dan meninggalkan Adam. T.T

Bryn
Aktris cantik Hollywood yang berusia 28 tahun ini adalah pacar Adam. Mereka berhubungan setahun belakangan, setelah saling dikenalkan oleh Brooke Vega, penyanyi dan pengarang lagu yang cukup terkenal. Tapi, Bryn selalu bisa merasakan kalau Adam tidak sepenuhnya mencintainya. (Ya iyalah, cinta Adam kan hanya untuk Mia… :’)

Aldous
Pria ini adalah manajer band Shooting Star. Aldous mengizinkan Adam tinggal satu hari lagi di New York sebelum mereka semua berangkat ke London, setelah melihat keadaan Adam yang sangat kacau sehabis melakukan wawancara.

Kim
Sahabat karib Mia ini sekarang telah menjadi fotografer perang yang cukup sukses. Beberapa tahun setelah kepergian Mia, Kim mendatangi Adam untuk mencoba menjelaskan sesuatu. Tapi pada akhirnya Kim justru di usir oleh Adam, dan tidak pernah menemui Adam lagi. Meskipun begitu, Kim pernah datang ke konser Adam.

Liz
Cewek lesbian ini (ia memiliki pacar bernama Sarah) adalah drummer sekaligus ketua band Shooting Star. Liz yang menemukan Adam sedang mengamen di kafe-kafe kemudian mengajaknya bergabung dalam band sebagai gitaris sekaligus vokalis. Satu hal lagi yang bisa kulihat dari tokoh Liz adalah dia sangat bijaksana, dan sangat menyayangi Mia seperti saudaranya sendiri.

Fitzy dan Mike
Keduanya juga anggota band Shooting Star. Fitzy sosok yang lebih bersahabat dan mau memahami keadaan Adam saat cowok itu mulai menjauh dari anggota band lainnya, ia tidak menyalahkan Adam sama sekali. Sedangkan Mike pribadi yang bertolak belakang. Mike merasa Adam memonopoli band mereka, karena semua wartawan hanya peduli dan menanyai Adam saat wawancara. Terlebih saat Adam mulai menarik diri, Mike sangat marah dan tidak memedulikan Adam.


Jalan Cerita
Sebelumnya di If I Stay…
“Jika kau tinggal, aku akan melakukan apa saja yang kau inginkan. Aku akan berhenti main band, pergi bersamamu ke New York. Tapi jika kau ingin aku menghilang, aku juga akan melakukan itu. Aku tadi bicara dengan Liz dan dia berkata mungkin kembali ke kehidupan lamamu akan menyakitkan, bahwa mungkin akan lebih mudah bagimu jika menghapus kami dari kehidupanmu. Dan itu akan sangat menyebalkan, tapi aku akan melakukannya. Aku sanggup kehilangan kau seperti itu asalkan aku tidak perlu kehilangan dirimu hari ini. Aku akan melepaskanmu. Jika kau tetap hidup.”
Perkataan Adam itulah yang membuat roh Mia kembali ke tubuhnya, sekaligus membuat Adam kehilangan Mia. Karena, bagaimanapun Adam harus bisa menepati janjinya sendiri.

Cerita dimulai pada saat Adam terbangun dari tidurnya. Aldous—manajer band Shooting Star—sudah menelepon Adam berulang kali, memaksa agar cowok itu segera bangun dan berangkat ke studio untuk rekaman beberapa track gitar untuk versi internet single pertama dalam album yang baru saja dirilis. Adam segera bangun dan meraih botol berisi obat semacam anticemas (katanya) kemudian meminumnya, karena akhir-akhir ini Adam mudah terserang kepanikan yang berlebihan. Adam telah sukses bersama bandnya, Shooting Star, namun belakangan hubungannya dengan anggota band lain tidak terlalu bagus. Adam selalu minta agar ia menginap di hotel yang terpisah dengan Liz, Fitzy, dan Mike. Adam juga telah memiliki seorang pacar bernama Bryn, seorang aktris Hollywood yang sangat cantik.

Setelah berjalan beberapa blok dari hotel tempatnya menginap (dengan menggunakan topi agar orang-orang tidak mudah mengenalinya) akhirnya ia tiba di studio. Aldous sudah menunggunya di sana. Selesai rekaman, Adam ada jadwal makan siang sekaligus wawancara dengan seorang wartawan. Awalnya, Adam bersikap santai. Namun saat wartawan itu mulai mengorek informasi tentang Mia, Adam tidak dapat lagi menahan emosinya. Akhirnya terjadi sebuah insiden kecil yang mengharuskan Aldous turun tangan untuk mengendalikan situasi.

Di depan hotel, Aldous berkata mungkin Adam butuh waktu untuk bersantai sejenak. Ia mengizinkan Adam tinggal satu hari lagi di New York, sebelum mereka semua berangkat ke London untuk pembuatan video klip. Anggota band lainnya akan tetap berangkat hari itu, tapi Aldous menukar tiket Adam dan tiketnya sendiri untuk keberangkatan besok pukul lima sore. Jadi, hari itu Adam terbebas dari semua rutinitasnya sebagai seleb terkenal. Ia berjalan-jalan, mengelilingi New York sendirian.

Saat senja tiba, langkah kaki Adam membawanya ke Carniege Hall, dan di sanalah dia melihat poster konser Mia yang akan diadakan malam itu. Tanpa sadar, ia melangkah ke loket tiket. Faktor keberuntungan membuatnya berhasil mendapatkan sebuah tiket malam itu. Kemudian Adam masuk dan mencari tempat duduknya. Adam mengingat kembali saat kencan pertamanya bersama Mia, ia pergi bersama gadis itu ke konser cello Yo-yo Ma. Adam bekerja sebagai pengantar pizza demi bisa membeli tiket konser untuk Mia saat itu.

Konser selesai. Mia mendapatkan tepuk tangan yang riuh dan sambutan yang hangat dari para penonton. Saat Adam hendak beranjak keluar dari tempat itu, seorang petugas memanggilnya dan berkata bahwa Mia ingin bertemu dengannya. Dengan linglung, Adam membiarkan dirinya ditarik oleh petugas itu dan dibawa ke belakang panggung. Dan di sanalah, ia melihat Mia.

Adam dan Mia keluar bersama malam itu. Setelah berhasil menghindar dari seorang paparazzo, Mia membawa Adam bersamanya untuk mencari telur Paskah di kota—tur rahasia New York (disebut begitu karena Mia tidak akan memberitahu Adam tempat-tempat yang akan mereka datangi). Pertama, Mia mengajak Adam ke sebuah kedai untuk makan malam bersama yang ternyata pemiliknya akrab dengan Mia dan terus menggoda Mia dengan beranggapan Adam itu pacarnya (hahaha.. Mia dan Adam jadi salting, :D). Kedua, Mia mengajak Adam ke arena permainan boling yang letaknya tersembunyi di sudut terminal bus. Selanjutnya, mereka pergi ke stasiun subway Times Square, naik feri ke Staten Island pada dini hari untuk melihat Patung Liberty, dan terakhir ke Brooklyn Bridge saat pagi datang.

Di Brooklyn Bridge lah akhirnya Adam mengeluarkan semua emosi yang sudah ditahannya sejak tadi malam. Kebingungannya, keheranannya, sakit hati Adam karena ditinggalkan begitu saja oleh Mia tiga tahun lalu, tanpa penjelasan apa pun. Akhirnya, di sana lah Mia berusaha menjelaskan semuanya kepada Adam. Meluruskan kesalahpahaman mereka, berusaha memberikan penutup yang sempurna untuk kisah cinta mereka. Sementara waktu yang mereka miliki terus menipis, karena, hari itu juga, Adam harus berangkat ke London, dan Mia akan berangkat ke Jepang.
Apa alasan Mia meninggalkan Adam?
Dapatkah mereka bersatu lagi?
Baca aja novelnya. ;)


Penilaian
Dengan sedikit enggan, kuakui kalo aku suka sekali cover-nya. Padahal, aku paling anti sama warna hijau—seperti yang bisa dilihat sampulnya warna ijo kan—tapi ternyata ada pengecualian untuk novel ini *sigh*. Tapi warna dan gambarnya memang pas sekali, sebuah gitar tua yang disandarkan pada sebuah pintu berwarna hijau yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. I like it! :)

Aku dibuat kaget dengan perubahan karakter Mia dan Adam. Adam berubah menjadi sosok yang pendiam, menarik diri, dan yang lebih parah, ia bergantung pada obat-obatan dan rokok. Sedangkan Mia, aku merasa Mia yang ada di Where She Went adalah Mia yang peragu dan plinplan. Sangat berbeda dengan Mia di If I Stay yang kuat dan tegas. Good job, Gayle Forman!

Where She Went adalah bukunya Adam. Aku bisa merasakan semua penderitaan Adam dari sudut pandangnya. Narasinya cowok banget. Gayle Forman sukses membuat perbedaan yang cukup signifikan dengan seri pertamanya, If I Stay yang Mia banget.

Sama seperti If I Stay, alur yang melompat-lompat antara masa lalu dan masa sekarang tetap oke dan nyaman diikuti. Beberapa lirik lagu dari Shooting Star (yang semuanya ditulis oleh Adam) yang dicantumkan di permulaan bab sangat apik, membuat pembaca lebih terhanyut dalam aliran cerita. Satu hal yang sedikit membuatku kecewa adalah ending-nya. Aku tidak tahu ada apa antara aku dan ending novel *apa sih* mungkin aku yang terlalu sensi. Aku hanya berharap ending-nya bisa lebih sedikit dari itu, mungkin akan terasa lebih manis dan memuaskan pembaca. :)

Baca If I Stay nggak akan afdol kalo belom baca lanjutannya, Where She Went. Oh iya, aku mau ngingetin aja nih, kalo bisa bacanya runtut, jangan baca yang Where She Went dulu, nanti nggak asyik loh, twist-nya kurang terasa. :p
Empat bintang untuk perjuangan Adam. :)

p.s : Kalo Shooting Star benar-benar ada, dan Collateral Damage benar-benar dirilis, sudah pasti akan kubeli albumnya! Liriknya itu looohh, dalem bangettttt!!!
Mungkin karena lagu-lagu di album itu semuanya ditulis Adam sebagai ungkapan perasaannya untuk Mia. :”)


My favorite Quote
Berikut beberapa quote favoritku, cekidot. ^.^

Tetapi, tetap saja, aku butuh mengingatkan diri bahwa satu hari hanyalah sementara, meyakinkan diri bahwa jika aku mampu melalui hari kemarin, aku akan mampu melewati hari ini. —Adam, hal 9

Aku dikelilingi manusia dan merasa sendirian. Aku mengaku butuh sedikit kehidupan normal dan sekarang setelah mendapatkannya, sepertinya aku tidak tahu apa yang harus dilakukan, tidak tahu bagaimana menjadi manusia normal lagi. —Adam, hal 34

… dan tiba-tiba saja dia ada di sana. Benar-benar ada. Daging dan tulang, bukan hantu.
Naluri pertamaku bukanlah memeluknya atau menciumnya atau meneriakinya. Aku hanya ingin menyentuh pipinya, yang masih merah setelah pertunjukkan tadi … dan mengusapkan jemariku yang kapalan ke wajahnya. Aku ingin menyentuhnya untuk memastikan ini benar-benar dirinya… —Adam, hal 51

… dan mereka akan segera lupa bahwa aku hanya manusia fana: daging dan tulang, bisa memar dan terluka. —Adam, hal 129 (perasaan Adam saat mengeluhkan tentang para fans-nya)

Siapa pun yang bilang masa lalu sudah mati sesungguhnya terbalik. Masa depanlah yang mati, sudah dilakukan. Malam ini adalah kesalahan. Malam ini tidak akan bisa terulang. Atau membiarkan aku memperbaiki kesalahan-kesalahan yang kuperbuat. Atau janji-janji yang pernah kuucapkan. Atau mendapatkan Mia kembali. Atau mendapatkan diriku yang dulu kembali. —Adam, hal 133

“Berhenti tidak sulit. Memutuskan berhentilah yang sulit. Tapi, begitu kau sudah melakukan lompatan mental itu, sisanya mudah.” —Mia, hal 165

Melepaskan. Semua orang membicarakannya seakan ini hal paling mudah. Rentangkan jemarimu satu demi satu sampai tanganmu terbuka. Tetapi, tanganku mengepal erat selama tiga tahun belakangan ini; membeku. Seluruh bagian diriku membeku. Dan hendak runtuh menjadi serpihan. —Adam, hal 172

Karena yang bisa kudengar sekarang hanyalah deru dalam kepalaku, lolongan tanpa kata sementara Mia menghilang dan aku berusaha merelakannya. —Adam, hal 179

Tetapi, aku akan melakukannya lagi. Aku tahu itu sekarang. Aku akan mengucapkan janji itu seribu kali dan kehilangan dirinya seribu kali lagi demi mendengarnya bermain tadi malam atau menatapnya dalam cahaya pagi. Atau bahkan tanpa itu sama sekali. Hanya tahu bahwa dia ada di luar sana. Hidup. —Adam, hal 194

“… Kalau ini membantu, setelah beberapa lama, ketika kebencian itu tidak lagi kurasa perlu, ketika yang tersisa hanya perasaan bersalah, yang tertinggal dalam diriku adalah perasaan betapa besarnya kesalahanku kepadamu, betapa aku merindukanmu. Dan aku harus melihatmu dari kejauhan, menyaksikanmu mencapai mimpi, menjalani kehidupan yang tampak sempurna.” —Mia, hal 208

Konser bukan berarti berdiri menjadi target di depan ribuan orang asing. Konser berarti menyatu. Harmoni. —Adam, hal 210

“Band. Ketika kau bersama band, aku sudah merasa perlu membagimu bersama semua orang. Aku tidak ingin menambahkan keluargaku juga ke sana.” Kemudian dia kalah dalam pertempuran dan menangis.
Seluruh kejengkelanku lumer. “Dasar anak tolol,” aku membujuknya, dan mencium dahinya. “Kau tidak membagiku. Kau memilikiku.” —Mia dan Adam (flashback), hal 225 (aawww… so sweeett, *klepek2*)

Namun, semua itu akan bisa kutanggung jika ada dia di sampingku. —Adam, hal 227


Shooting Star, Collateral Damage
Berikut kutuliskan beberapa lagu favoritku dari album ini,

First you inspect me
Then you dissect me
Then you reject me
I wait for the day
That you’ll resurrect me
ANIMATE
COLLATERAL DAMAGE, LAGU 1

I’ll be your mess, you be mine
That was the deal that we had signed
I bought a hazmat suit to clean up your waste
Gas mask, gloves, to keep us safe
But now I’m alone in an empty room
Staring down immaculate doom
MESSY
COLLATERAL DAMAGE, LAGU 2

The clothes are packed off to Goodwill
I said my good byes up on that hill
The house is empty, the furniture sold
Soon your smells will decay to mold
Don’t know why I bother calling, ain’t nobody answering
Don’t know why I bother singing, ain’t nobody listening
DISCONNECT
COLLATERAL DAMAGE, LAGU 10

Barrel of the gun, rounds one two three
She says I have to pick; choose you, or choose me
Metal to the temple, the explosion is deafening
Lick the blood that covers me
She’s the last one standing
ROULETTE
COLLATERAL DAMAGE, LAGU 11




Regards,

=R=

Cara Mengembalikan Akun BBM yang Dibajak atau Dihack (Terkena Hack)

Beberapa hari yang lalu saya mengalami kejadian yang kurang menyenangkan. Akun BBM saya dibajak :( Pertama kali tahu dari teman saya yang ...