Showing posts with label My Daily Story. Show all posts
Showing posts with label My Daily Story. Show all posts

Monday, March 26, 2018

Cara Mengembalikan Akun BBM yang Dibajak atau Dihack (Terkena Hack)

Beberapa hari yang lalu saya mengalami kejadian yang kurang menyenangkan. Akun BBM saya dibajak :( Pertama kali tahu dari teman saya yang mengirimkan pesan lewat whatsapp, menanyakan apakah akun bbm saya dibajak, karena dia dikirimi link2 tautan video aneh dari BBM saya. Setelah saya cek akun bbm saya sudah dalam mode log out dan saat saya coba log in dengan email dan password saya sudah tidak bisa. Langsung deh lemas takut akun BBM disalahgunakan untuk penipuan/kriminalitas. Setelah saya runut beberapa hari yang lalu saya mendapat pesan BBM dari teman berisi link tautan yang katanya informasi penting dan harus saya buka, saat saya buka saya diharuskan memasukkan email dan password BBM seolah2 BBM saya dalam posisi log out (saat itu saya nggak sadar kalau SEBELUMNYA SAYA TIDAK PERNAH LOG OUT AKUN BBM) karena tampilannya mirip saat log in BBM, tanpa curiga saya masukkan email dan password, dan hasilnya beberapa hari kemudian akun saya dibajak. Baru saya sadar kemarin itu saya sudah menyerahkan email dan password untuk si hacker :(
Alhamdulillah dengan pengetahuan ala kadarnya waktu pelajaran IT di sekolah, hasil browsing sana sini, dan ilmu dari film & drama korea tentang hacker (:iyaa saya sukaaa drama korea:) akhirnya akun BBM saya bisa kembali. Buat kalian yang mengalami hal serupa, silakan dicoba langkah-langkah berikut ini.

Wednesday, May 2, 2012

Berbincang Bersama Pagi


Seseorang menepuk-nepuk dahiku perlahan. Aku mengerang dan membuka mata dengan sedikit kesal. Huft, terputuslah mimpi indahku itu. Aku bermimpi menjadi tokoh utama wanita dari novel yang kubaca semalam. Hahaha.. mungkin karena aku terlalu menghayatinya. :p

“Ayo bangun! Katanya mau nganter? Udah jam empat nih.”

Itu suara Mama. Yeah, bagaimana mungkin aku bisa lupa? Mama dan rekan-rekan sekantornya akan piknik ke Jogja hari ini, dan aku bertugas mengantar Mama ke kantornya (yang jaraknya sekitar 20 km dari rumah) untuk berkumpul. Sebenarnya aku juga ditawarin ikut, tapi ternyata organisasi karang tarunaku juga akan mengadakan piknik, dan saat rapat aku terpilih menjadi panitia (padahal waktu dateng rapat aku udah milih tempat duduk di pojokan agak belakang, dan nunduk-nunduk terus selama rapat. Tapi emang dasar nasib lagi apes atau karena Kak Andi—Ketua karang taruna—memang sangat jeli melihat kehadiranku, akhirnya namaku tercantum juga di daftar ‘keramat’ itu) akhirnya aku ikut piknik yang diadakan karang tarunaku pada awal bulan Juli nanti. Entah kenapa, pemikiranku memang selalu klop dengan Kak Andi, aku juga nyaman ngobrol sama dia, meskipun dia termasuk anggota senior. :)

Anyway, back to the story.

“Ayo bangun, nanti telat.” Suara Mama lagi tuh.

Aku hanya menarik selimut sampai hampir menutupi kepalaku, memejamkan mata lagi, dan bergumam pelan, “Lima belas menit lagi.” Nyatanya, tak sampai lima belas menit aku sudah menendang selimut dan gulingku, merangkak keluar tempat tidur, berjalan ke kamar mandi, lalu bergegas cuci muka, gosok gigi, dan berwudhu. Aku sadar kalau sampai Mama ketinggalan bus, dia pasti akan marah sekali. Kalau dia marah, dijamin aku nggak bakalan dikasih uang jajan. Kalau aku nggak dikasih uang jajan, wah celaka dua puluh!!!! Bukan, bukan karena aku nggak bisa jajan di kantin atau nggak bisa beli pulsa, atau nggak bisa beli bensin. Tapi karena aku nggak bakal bisa nabung buat… BELI NOVEL!!! *gubrakk* :D

Maka, dengan kesadaran penuh, aku bergegas menunaikan sholat subuh yang hanya dua rekaat (syukurlah, coba kalo dua puluh rekaat? Pingsan dong gue!! Hehehe,) kemudian ganti baju, menyesap teh hangat yang sudah dibuatkan nenekku, dan segera mengeluarkan motor untuk dipanaskan. Tak berapa lama, kami sudah ada di jalan. Mama yang memegang kendali motor. Sedangkan aku? Aku hanya membonceng di belakangnya dengan mata yang mulai mengantuk lagi karena angin subuh yang tanpa permisi membelai wajahku. Hmm, ternyata udara subuh sangat menyegarkan. Dingin, sejuk dan menenangkan. Tapi tetep bikin ngantuk sih. Hehehe.

“Nih, kalo mau sarapan. Ada donat.” Dengan tangan kiri, perlahan Mama mengangsurkan tas yang berisi bekal makanannya. Aku menerima tas itu, dan kutengok apa saja yang ada di dalamnya. Memang ada donat, tapi toping-nya abon. Yuks, aku nggak suka. Lalu ada roti kering, beberapa jenis keripik, sebotol air mineral, dan dua kaleng minuman bersoda. Hmm, melihat semua makanan itu justru membuat perutku terasa mual. Akhirnya kuangsurkan kembali tas itu kepada Mama.
“Nggak mau, donatnya rasa abon. Nggak doyan.”
“Kan ada yang cokelat.”
“Nggak ada kok.”
“Ada. Di bagian paling bawah.”
“Nggak, ah. Nggak enak makan subuh-subuh gini.”
“Ya udah,”

Beberapa saat kemudian kami melewati pasar. Wow, ternyata sudah sangat ramai. Suasananya menyenangkan. Melihat para pedagang dan pembeli saling tawar menawar harga, dengan diterangi lampu bercahaya orange yang menyela terang. Apik sekali. Sekitar dua puluh menit kemudian, kami melewati area persawahan dan perbukitan. Jalan mulai berkelok-kelok dan naik turun. Matahari sudah mulai menyembul nampaknya, dan langit sudah berubah warnanya, dari hitam legam menjadi biru tua. Terlihat kabut tipis menyelimuti jalanan yang masih terbilang sepi. Terlihat olehku beberapa orang yang berjalan dengan santai di pinggiran. Ada segerombolan ibu-ibu yang sedang bercengkrama heboh sambil menenteng tas belanjaan, ada seorang nenek yang berjalan perlahan, dan ada seorang kakek yang berjalan seraya memikul kayu bakar. Aku sadar, betapa banyak keindahan yang bisa kita lihat di waktu subuh, jika kita mau bangun lebih pagi (alih-alih tidur lagi setelah beribadah, wkwkwkwk.. siapa tuh? Hahaha..). Dan semua keindahan itu akan hilang jika sang surya sudah terlihat bertengger tinggi di langit. Dengan panas yang menyengat dan asap-asap kendaraan yang melintas (terutama asap bus-bus yang berwarna hitam pekat itu *hoek*).

Akhirnya, kami sampai di kantor Mama. Saat aku turun dari boncengan, kulihat Mama melambaikan tangan pada salah seorang rekan kerjanya yang juga baru sampai. Mama turun, dan menyerahkan kendali motor padaku. Aku sama sekali tak menangis, mungkin karena aku sudah terbiasa ditinggal kedua orangtuaku bekerja ke luar kota atau bahkan ke luar negeri dalam jangka waktu yang cukup lama. Kalau cuma ditinggal piknik sehari aja sih, no problem buatku. :p
Mama tersenyum padaku, kurasakan kedua mata teduhnya juga ikut terseyum.

“Hati-hati pulangnya. Jangan ngebut-ngebut. Udah nggak bingung lagi kan, jalannya?”

Aku mengangguk, sebagai jawaban atas perintahnya ‘hati hati dan jangan ngebut’ kemudian menggeleng untuk mengisyaratkan aku tidak bingung dengan jalan pulang yang harus kutempuh sendiri. Olala, sungguh terlalu kalo aku masih bingung juga. Tadi sebelum berangkat, Mama dengan senang hati sudah menggambarkan denah rute pulang ke rumah, kemudian
menjelaskannya berulang kali padaku dan menjejalkan denah itu ke kantong jaketku . Mungkin dia khawatir, karena aku belum pernah pergi sendiri sejauh itu. Paling pol cuma ke Solo Grand Mall, Gramedia, atau Togamas, hahaha. :D *nasib* ini dia denah yang digambar Mama…


Maaf ya, udah lecek tuh. Maklum, habis dilipat-lipat
dan dimasukkan ke kantong jaket. :p

Akhirnya, setelah bersalaman dan mencium tangan Mama, aku mulai melajukan motorku. Ke mana lagi? Tentu saja pulang, karena perutku sudah keroncongan dari tadi, minta diisi, kelaparan setengah mati. :p




Regards,

=R=

Saturday, March 3, 2012

MatemaTRESNO (MatemaCinta)

Cover depan VCD (Dari kiri) Tommy-Rin-Rio
Aku lagi semangat bikin posting-an nih, tapi bingung mau nulis apa. Jadilah aku meng-up load beberapa foto sewaktu dapet tugas bikin drama bahasa Jawa yang harus dibuat bentuk filmnya juga. Foto-foto yang aku unggah di sini diambil waktu bikin cover, take adegan, dan beberapa behind the scene. Judul dramanya MatemaTRESNO (tresno artinya cinta), yang merupakan plesetan dari novel MatemaCinta karya Razy Bintang Argian. Kelompokku terinspirasi dari sana. Tapi, ceritanya sedikit berbeda, kok. Meskipun nama dari beberapa tokohnya memang diadaptasi dari novel tersebut. Maaf ya Kak Razy, pinjem nama tokohnya bentar. Oh iya, karena ini drama bahasa Jawa, tentu saja percakapannya juga menggunakan bahasa Jawa. Ini versi singkat ceritanya : Rin adalah seorang cewek manis yang cuek abis, selalu terlambat datang ke sekolah, dan selalu mendapat nilai jelek pada mata pelajaran matematika. Rin ini naksir berat sama Tommy, temen sekelasnya yang ganteng (plis deh ah, yang meranin Tommy biasa aja tuh! Hehehe. Dani jangan marah ya, cuma bercanda kok) dan jago basket. Si Tommy sebenernya juga naksir sama Rin, tapi nggak pernah berani ngomong. Sampai suatu hari, muncullah seorang guru matematika baru, bernama Rio yang masih muda (Rio ini masih kuliah, dia ngambil part time jadi guru SMA, kuliahnya antara sore sampai malam) smart, ganteng plus keren (meskipun yang memerankan tokoh Rio tidak terlalu ganteng, hahaha... peace ya, Adit!! :D) yang bertugas menggantikan Bu Yati (guru matematika yang lama) karena beliau sedang cuti melahirkan. Masalah mulai muncul ketika Rio mulai naksir sama Rin. Tommy yang menyadari hal ini merasa cemburu dan mulai melakukan pendekatan pada Rin. Tommy selalu muncul sebagai 'hero' bagi Rin saat cewek itu sedang dimarahi Rio, karena nilainya yang selalu jelek pada mapel matematika. Sedangkan Rin yang nggak pernah 'ngeh' sama perhatian Rio justru judes banget plus selalu berantem sama cowok itu, dan lebih peduli sama Tommy, tapi Rio tetep maju terus pantang mundur. Rio juga meminta bantuan pada sahabat Rin, yaitu Ella dan Ovi agar bisa memenangkan hati cewek itu. Ella dan Ovi nggak setuju kalo Rin jadian sama Tommy, karena menurut mereka Tommy itu playboy. Di sisi lain, ada seorang guru muda yaitu Bu Tita yang naksir sama Rio. Tapi, tentu saja Rio lebih peduli pada Rin. Parahnya, ternyata Rio ini tetanggaan sama Rin, dan ibunya Rin merasa kagum pada Rio yang ganteng, sopan, dan pintar. Ibunya Rin selalu menggoda anaknya tentang Rio. Sampai suatu hari, Tommy yang sudah 'panas' melihat usaha Rio mendekati Rin, akhirnya menantang Rio untuk duel basket. Yang tidak diduga oleh Tommy adalah, si Rio ini juga jago banget main basket. Nah, bagaimanakah akhir kisah ini? Yang pasti happy-end donk, hehehe. :) :) :) Ini dia foto-foto saat pengambilan adegan, pembuatan cover, dan behind the scene-nya, enjoy guys!!! :D
Rio dan Ovi Di halaman samping sekolah, di depan aula, habis take adegan. (Dari kiri) Tommy-Rin-Rio Cover belakang VCD Kostum basketnya Tommy kedodoran tuh, hahaha :D Hasil minjem temen sih, (=.=!!) Masih formasi yang sama Di lapangan basket sekolah Ouwww, kacian si Tommy... :'( Aha! Tommy-Rin :D Hei!!! Tommy cuma ngeliatin aja nih. Ngomong donk!! :p Waduh, my bad. Nggak sengaja dobel nih. Maaph2. Ini nggak serius. Tommy ketawa sih. Btw, yang dibelakang itu siapa ya?? Pada ngapain tuh? *mencurigakan.com* Rio-Tommy OH NO!!! Tommy mau melahirkan!!!! Cepat bawa ke UGD!!! Hahahaha... :D (Dari kiri) Tommy-Rio-Ovi Weits, pada ngeliatin apaan sichh??!!! (Dari kiri) Ella-Rin Makan-makan di SS kehujanan habis syuting, capek, tapi seru!! :) Bu Tita (Replika angan-angan) dan Ella Rio-Tommy di halaman depan sekolah (behind the scene) Ini bercandaan lho, nggak beneran kok!!! Jangan mikir macem2 yach!! :p (Dari kiri) Ella-Ovi-Rio Pengambilan adegan di kelas tercinta Duh sori. Nggak sengaja dobel lagi nih. :p (Dari kanan) Rin-ibu Rin (pake jaket)-Bu Tita (masih pake seragam skul)-Ovi di halaman depan sekolah deket patung gajah yang menjadi maskot sekolah (Dari kanan) Ella-ibu Rin-Bu Tita-Ovi Ini di kantor Bupati, deket taman yang ada air mancurnya Kenapa di kantor Bupati? Karena di sana tamannya banyak dan lumayan bagus. :) Rin-Rio Rio nunduk, ekspresinya seperti sedih atau kecewa. Padahal, dia itu frustasi berusaha mengingat dialognya, hahaha :D Kantor Bupati (Dari kanan) Ella-Bu Tita (Replika angan-angan)-Ibu Rin Hei, jangan melangkahi tanaman seperti itu!!! >.<" Kantor Bupati it's me. Hahaha... sok banget ya, gayanya. Wkwkwk :p Ini Ella, kamerawati yang merangkap jadi tukang make-up. Dia nggak mau kalah narsis sama aku. :D Rio (sok banget ya? Narsis abis.) Dia jadi 'kambing percobaannya' Ella Lihat aja rambutnya itu. Hahahaha... :D (Dari kiri) Bu Tita (Replika angan-angan) dan Ella. Tetap bergaya. =.=" Pada ngumpul di depan aula sekolah sebelum berangkat ke Balai Kota Surakarta Mau foto-foto buat cover VCD :) (Dari kiri) Ibu Rin- Bu Tita Hehehe, Bu Tita ngapain tuh?? Wkwkwk, :p Woii, bagi cokelatnya doonnkk!!! Bagi-bagi cokelat, yummyy!!! :D Lama amat? Bisa buka bungkusnya nggak sih??!!! (Dari kiri) Rio-Tommy Di Gedung Balai Kota Surakarta Niatnya sih bikin ekspresi tegang seperti saingan Jadinya? Malah cengengesan tuh. =.=" (Dari kiri) Rio-Ovi-Ella Rio pe-de banget tuh!!! Masih di Gedung Balai Kota Surakarta (Dari kanan) Ovi-Tommy-Ella-Rio Silahkan jika ingin muntah melihat kenarsisan mereka. :p (Dari kiri) Ibu Rin-Rin-Bu Tita-Ella-Ovi Gedung Balai Kota Surakarta (Dari kanan) Ovi-Ella-Bu Tita-Rin-Ibu Rin Gedung Balai Kota Surakarta (Dari kiri) Rio-Tommy(ngapain tuh??)-Ovi-Ibu Rin-Rin Gedung Balai Kota Surakarta (Yang duduk dari atas ke bawah) Rio-Rin-Tommy (Yang berdiri dari atas ke bawah) Ovi-Ella-Bu Tita-Ibu Rin Gedung Balai Kota Surakarta Masih formasi yang sama Gedung balai Kota Surakarta (Yang tengah dari kanan) Tommy-Rin-Rio (Sisi kanan) Bu Tita-Ibu Rin (Sisi kiri) Ovi-Ella Pengennya dibuat seperti adegan di film Titanic. Rin-Rio berdiri di ujung pagar besi itu, seperti Jack dan Rose yang berdiri di pagar ujung depan kapal Titanic Tapi ternyata pagarnya licin, nggak jadi deh. :( (Yang di depan dari sisi kiri) Rio-Rin-Tommy(kenapa merem gitu??!!) (Yang di belakang dari sisi kiri) Ibu Rin-Ella-Ovi-Bu Tita Gedung Balai Kota Surakarta Formasi sama Gedung Balai Kota Surakarta (Yang depan dari kanan) Bu Tita-Rin-Si Mas penjaga Balai Kota-Ovi-Ibu Rin (Yang belakang dari kanan) Ella-Tommy Selama kita ngambil foto formasi lengkap, Si Mas itulah yang jadi kamerawan dadakan. Hehehe :) Thanks a lot ya, Mas!! (dulu lupa nanya namanya) (Dari kanan) Rio-Si Mas penjaga Balai Kota-Tommy Gedung Balai Kota Surakarta
Regards, =R=

Thursday, February 23, 2012

Malaikat Mungil tak Bersayap



Malam ini, ba’da maghrib aku berangkat les ke rumah guruku. Rasa frustasi mungkin sudah menghiasi wajahku, bukan karena memikirkan rumus-rumus fisika yang akan kupelajari. Ini tentang masalah yang baru-baru ini muncul dalam hidupku. Masalah yang kemungkinan besar tidak akan dialami oleh teman-teman sebayaku, sehingga mereka tidak dapat merasakan apa yang kurasakan. Hanya tentang itu. Sewaktu kecil, aku menganggap hal itu tidak begitu penting. Maklum, aku belum bisa memahami semuanya waktu itu. Kupikir, ke depannya juga tidak akan apa-apa. Toh, sampai sekarang pun aku masih baik-baik saja. Hingga hari itu tiba. Duniaku serta merta berubah. Sepertinya semua orang mengira bahwa aku baik-baik saja. Aku senang dengan hal itu. Aku memang sengaja menyembunyikannya, belum siap untuk berbagi dengan siapa pun.

Aku mengeluarkan motor kesayanganku, lalu tancap gas ke tempat les. Kuakui, aku sedikit ngebut. Aku menengadah, memandang langit yang gelap dan suram. Mendung bertengger dengan santainya di sana. Menutupi sang bulan dan para bintang yang ingin menunjukkan kemilaunya di bumi. Cahaya kilat sesekali nampak mendampingi sang mega mendung. Sampai di perempatan lampu merah, kuhembuskan napas dengan kesal setelah melihat timer lampu merah itu. Masih lebih dari satu menit lagi sampai lampu hijau kembali menyala. Aku mengetuk-ngetukkan kakiku pada aspal jalan, menunggu dengan tidak sabar. Dari sudut mataku, kulihat sesosok tubuh menghampiriku dari sisi kanan. Saat aku menoleh, ternyata hanya seorang anak laki-laki. Mungkin berusia sekitar enam atau tujuh tahun. Tubuhnya kecil mungil, berbalut kaus bermotif garis-garis putih abu-abu, celana lusuh selutut, dan sepasang kaki yang telanjang, tanpa memakai sandal. Aku terenyuh ketika melihat bocah kecil itu menengadahkan tangan kanannya padaku dengan kedua matanya yang bening, dan pupil mata yang berukuran sedikit lebih besar daripada pupil mata orang dewasa.


Aku langsung tersadar. Betapa egoisnya aku ini. Andaikan aku mau sedikit saja berpikir dan merenungkan kehidupan yang kumiliki. Aku masih memiliki orangtua kandung yang lengkap. Ada mama. Ada papa. Hidupku berkecukupan, dengan fasilitas yang lumayan lengkap. Aku punya rumah untuk tempat berteduh dari panas ataupun hujan. Aku bisa bersekolah setinggi yang aku mau. Aku memiliki teman-teman dan sahabat-sahabat yang baik. Wajahku cukup lumayan, walaupun nggak secantik Christine Stewart. Otakku juga cukup lumayan, meskipun tidak secemerlang Albert Einstein. Aku jauuuhhhhh lebih beruntung dari anak itu. Aku mulai berpikir,

Apakah anak itu masih punya orangtua?
Ayah? Atau Ibu?
Atau justru mereka yang memaksanya berbuat seperti itu?
Apakah dia bersekolah?
Apakah dia sudah makan hari ini?
Atau ia harus menahan lapar sampai ada seseorang yang berbaik hati, dan mau memberinya uang recehan?

Ya, malaikat mungil itu telah menyadarkanku, bahwa aku melupakan sesuatu yang sangat penting dalam hidup ini. Aku lupa untuk bersyukur, atas apa yang telah diberikanNya padaku selama ini. Tanpa ba-bi-bu, aku langsung merogoh saku jaket, berharap menemukan sedikit rupiah. Ternyata nihil. Kualihkan kedua tanganku, lalu merogoh saku celana jeans kesayanganku. Ternyata nihil juga. Aku teringat bahwa aku memasukkan dompetku ke dalam tas ransel yang sedang nangkring di punggungku. Saat aku hendak mengambil dompet, lampu kuning mulai menyala, menandakan lampu hijau akan menyusul. Aku langsung menggelengkan kepalaku ke arah anak lelaki itu dengan wajah sedih, kemudian mulai menjalankan motorku kembali, jika tidak ingin dicaci maki oleh para pengendara lainnya yang ada dibelakangku. Aku melaju dengan perasaan tak keruan. Niat hati ingin memberikan sedikit yang kupunya pada bocah kecil yang telah menyadarkanku itu. Mungkin sedikit rupiah itu tidak begitu berarti bagiku. Paling hanya buat bayar parkir atau beli permen. Tapi, untuk anak itu mungkin akan sangat berbeda keadaanya. Aku menyesal, dan berdoa dalam hati, semoga bocah itu masih di sana saat aku pulang les nanti.

Aku sampai di rumah sahabatku yang satu les denganku. Sebelum aku turun dari motor, ia sudah keluar dengan memakai kaus putih, celana selutut, dan handuk yang membungkus rambutnya. Sepertinya habis keramas.
“Hehehe, sori ya, kita nggak jadi les. Mbaknya lagi sakit. Aku udah sms kok, belom kamu baca, ya?” katanya. Aku langsung mengeluarkan hp-ku dan mengeceknya. Yups, memang ada pesan di sana. Aku langsung nyengir, “Oh, aku emang nggak ngecek hp dari tadi. Ya udah, aku cabut aja. Bye.” ucapku seraya memutar motor.
“Oke, bye. Hati-hati.” sahutnya pelan.
Sepulang dari sana, sebenernya aku ingin langsung menuju perempatan lampu merah itu lagi. Tapi aku mampir sebentar ke warnet, mau nge-print tugas bahasa inggris, naskah salinan buat ujian praktek besok. Soalnya, printer di rumah lagi ngadat. Sampai di sana, mas-mas yang jaga malah berceloteh ria dan agak sok akrab.
“Ini juga harus dihapalin? Terus disuruh maju gitu?” celotehnya sambil cengengesan.
“Iya.” kujawab singkat.
“Susah nggak ngapalinnya?”
“Nggak.”
“Kalo susah, anggep aja teksnya itu jalan pulang ke rumah. Pasti hapal tuh. Tenang aja. Tinggal bayangin, pasti teksnya langsung muncul di kepala.” Ehh ni orang. Udah dibilangin juga kalo aku nggak kesulitan ngapalin teksnya, masih aja komentar. Kalau cuma bahasa Inggris, masih bisa kuatasi, asal jangan bahasa Jepang. Ampun deh.
“Iya, makasih.” balasku singkat. Si mas masih cengengesan.

Selesai nge-print aku langsung tancap gas ke perempatan itu lagi, sudah menyiapkan sedikit rupiah di saku jaket untuk anak itu. Sampai di sana, lampu merah sedang menyala. Aku celingukan kanan-kiri-depan-belakang nyari tuh bocah. Hatiku langsung mencelos saat menyadari bahwa ia sudah pergi. Sungguh, aku sangat menyesal. Tau gitu mending nge-printnya belakangan aja tadi. Sampai lampu hijau kembali menyala pun, aku masih belum bisa menemukan anak itu lagi. Sepertinya ia sudah pergi. Hmmff, rasa sesal yang dalam menyelimuti hatiku. Aku ingin sekali berbagi padanya. Kepada anak itu, yang telah menyadarkanku. Aku hanya bisa pasrah dan melajukan motorku kembali pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang, kedua mataku merebak, terasa perih. Wajah anak itu terus terbayang-bayang dalam ingatanku. Aku hanya bisa berdoa dalam hati.

Ya Allah, lindungilah anak itu. Apakah ia malaikat utusanMu untuk menyadarkanku? Apa pun tujuanMu, aku berterima kasih, karena Engkau telah mempertemukanku dengan dia. Semoga ia tidak kedinginan atau kelaparan. Dimana pun anak itu berada, aku berdoa agar dia selalu dalam lindunganMu.

Ya Allah, maafkan aku yang lupa bersyukur.
Maafkan aku yang lupa untuk bersedekah.
Maafkan aku yang lupa dengan arti berbagi.
Maafkan aku yang selalu mengeluh dengan hidupku.
Maafkan aku yang selalu tidak puas dengan apa yang telah Engkau berikan.
Maafkan aku yang terkadang lupa mengingatMu dikala senang.
Maafkan aku.
Maafkan aku.
Sungguh, maafkan aku.
I’m begging You, please, forgive me, Ya Allah.

Ya Allah, dampingilah aku selalu. Jangan tinggalkan aku. Tuntunlah aku menuju jalanMu. Berikanlah kekuatan padaku untuk menghadapi semua ini. Kuatkanlah aku, ya Allah. Apapun takdir yang telah Engkau gariskan untukku, aku akan menerimanya dengan ikhlas. Engkau pun tahu, kebahagiaan kedua orangtuaku, khususnya Mama, adalah kebahagiaanku juga. Aku senang, jika mereka senang. Lindungilah mereka selalu. Apa pun yang bisa membuat kedua orangtuaku bahagia, aku akan melakukannya. Aku akan belajar untuk sabar, tegar, dan ikhlas. Amin.



Regards,
=R=

Monday, January 30, 2012

Bayangan yang Memudar



Aku berjalan perlahan melewati tangga sekolah menuju lantai dua. Di tengah perjalanan, aku berpapasan denganmu. Aku hanya melirikmu sekilas, tak cukup berani untuk menyapamu. Tatapan matamu lurus, kosong, dan hampa. Aku menguatkan hati untuk tetap meniti tiap-tiap anak tangga itu. Sesampainya di lantai dua, aku melihat mereka. Saling memandang, tersenyum bahagia dengan mata yang berkaca-kaca. Air mataku tak bisa kutahan lagi, mendesak ingin keluar, hingga tenggorokanku terasa sakit saat aku berusaha menahannya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari menuruni tangga seraya membiarkan semua luapan emosi itu keluar. Aku menangis. Tiba di lantai dasar, penglihatanku tertuju padamu. Di sanalah dirimu berada. Berdiri menjulang, sedang bercakap-cakap dengan salah seorang temanmu dengan ekspresi wajah yang sedang marah, atau kecewa? Tiba-tiba kau berpaling ke arahku, menatapku dengan dahi berkerut heran. Tanpa kusadari, kedua kakiku ini langsung saja berlari ke arahmu, dan kedua tanganku ini langsung memeluk tubuhmu erat. Awalnya kau bingung, aku bisa memakluminya. Namun tak lama kedua tanganmu mulai membalas pelukanku dengan hangat dan erat. Rasanya nyamaaann sekali.
“Tolong… huhuhuhu… tolongin aku. Hikz… hikz….” ucapku masih sesenggukan.
“Hei, tenanglah. Ada apa? Kenapa nangis?” ucapmu lembut.
“Itu… hikz… hikz… mereka… huhuhu….” aku tak sanggup menjelaskannya padamu.
Kau merenggangkan pelukanmu dan memegang kedua lenganku seraya menatapku lembut. “Kamu harus tenang dulu. Ikut aku yuk?” ajakmu seraya merengkuh bahuku dan menggiringku pelan, menjauhi tempat itu. Aku hanya bisa mengangguk pasrah dan mengikutimu.

Kedua mataku langsung terbuka, dengan kepala pening dan berdenyut-denyut sakit. Aku memandangi keadaan di sekelilingku. Di mana dia? Ucapku dalam hati. Tak perlu waktu yang lama bagiku untuk menyadarinya. Oh, sh*t!! Cuma mimpi. Aku menggeram kesal, lalu mengembuskan napas dengan berat. Oh, kumohon. Jangan datang lagi dalam mimpiku. Aku sudah cukup tersiksa saat melihatmu di sekolah setiap hari tanpa berani menyapamu. Aku tak sanggup. Perlahan, aku memaksa tubuhku untuk bangun dari posisi tidurku dan duduk di pinggiran tempat tidur . Kenangan itu berkelebat lagi dalam benakku. Hanya sebuah kenangan.
Hampir dua tahun yang lalu, saat kita masih sekelas (saat kelas 10). Aku selalu duduk di depan bangkumu. Waktu itu yang memilih tempat duduk memang bukan aku, tapi teman semejaku, karena aku memang selalu berangkat agak siang. Dia selalu memilih tempat duduk di pinggir, dekat jendela. Dan kau selalu duduk dibelakang kami, dengan teman semejamu, tentu saja. Awalnya kita tidak akrab, sangat jarang berbicara malah. Yah, karena aku selalu merasa canggung jika harus mengobrol dengan anak cowok. Tapi, lama-kelamaan kusadari juga kalau kau itu ternyata teman yang menyenangkan. Lucu, gokil, seru, dan… yah, sedikit keren (hahaha , aku tidak akan berani bilang seperti ini jika sedang berada dihadapanmu! :D).
Aku paling suka waktu kita diskusi tentang film. Yang paling seru waktu bahas film X-Men yang terbaru. Kau bersemangat sekali—sama sepertiku. Kita bisa tertawa lepas waktu itu. Ingin sekali rasanya mengulang saat-saat itu lagi. Tapi, tentu saja itu tidak bisa. Aku juga ingat sewaktu kau kebagian mengoreksi ulanganku (mapel apa ya waktu itu? Sepertinya bahasa Jawa atau bahasa Indonesia. Entahlah, aku sedikit lupa). Saat kutengok nilaiku, aku langsung merasa kecewa. Yahh, cuma dapet delapan puluh. Padahal targetku waktu itu harus bisa dapet sembilan puluh. Sepertinya kau menangkap rasa kecewa itu dalam ekspresi wajahku, karena kau langsung berkata, “Udah bagus kok, nggak pa-pa.” ucapmu seraya tersenyum manis yang kubalas dengan senyum kecut. Namun tak bisa kupungkiri hatiku sangat senang, karena kau bersedia menghiburku. Rasanya seperti ada ribuan bunga berwarna-warni memenuhi rongga hatiku (hehe, lebay ya?). Tak lupa tingkah lucumu saat sedang membersihkan kacamata yang kau pakai. Hahaha, selalu ada yang menggelikan saat kau melakukannya. Membuatku selalu tersenyum saat melihatnya. Aku menyukai wajahmu jika sedang memakai kacamata. Terlihat lucu, pintar, dan sedikit serius. Padahal kau itu orangnya rame, seru, suka bercanda, dan konyol juga.




Momen kenaikan kelas menjadi saat-saat yang paling suram bagiku. Bagaimana tidak? Kita pisah kelas. Begitu juga aku dengan ketiga sahabatku yang lain, kami semua beda kelas. Kau hanya melambaikan tangan dan tersenyum padaku sebelum masuk ke kelas barumu. Aku hanya membalas dengan senyum singkat. Di acara ultah sekolah, kau masih menyapaku (saat aku mebawa tumpeng yang superbart itu bersama beberapa orang temanku yang lain) dan bercanda sekilas denganku. Namun beberapa bulan kemudian, kau berhasil membuatku jatuh. Dan apakah kau tahu? Sakit sekali rasanya. Aku sedang ngobrol bersama dengan salah seorang sahabatku di depan kelas sepulang sekolah waktu itu. Tak lama, kau melintas bersama seorang cewek—tertawa-tawa bahagia bersama. Aku sudah hampir menangis waktu itu. Kau sempat melihatku sekilas—aku menyadarinya. Namun, kau tak memandangku lagi. Refleks, aku bertanya pada sahabatku. “Ehh, hmm… dia… udah jadian ya?” tanyaku seraya mengedikkan kepala ke arahmu. “Iya, baru beberapa hari yang lalu kayaknya.” jelas sahabatku. “Oh.” Apalagi yang bisa kukatakan?
Bagian tersulit saat mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain... (Orange, by Windry Ramadhina)
Sejak itu aku merasa kau semakin menjauh. Menyapa pun tidak. Aku juga tidak berani menyapamu duluan, takut dikira macam-macam oleh pacar barumu itu. Namun aku tahu, kau selalu melirik ke arahku saat berjalan melewati kelasku. Aku hanya bisa diam. Hanya berselang dua minggu, aku dengar kabar bahwa kau sudah putus. Katanya, cewek itu yang memutuskan hubungan kalian. Aku ikut merasa sedih. Kau pasti sangat terluka. Suatu hari, saat aku berangkat sekolah dengan diantar oleh Oom-ku, tanpa sengaja kulihat kau berjalan di depanku, melewati halam samping sekolah, menuju kelas. Aku hanya bisa menatap punggungmu dengan sedih. Hmm, mau bagaimana lagi? Pernah suatu ketika kau yang berjalan dibelakangku. Aku menyadarinya, tapi aku tak berani menoleh padamu. Hanya lewat jendela kaca yang ada disampingkulah aku berani melihatmu—yang ternyata juga sedang mengawasiku. Aku langsung menunduk, dan mempercepat langkahku menuju kelas. Yah, aku memang menyedihkan, aku tahu. Sampai sekarang pun, kita tak pernah saling menyapa lagi. Kalaupun hanya bisa menjadi teman, aku sudah cukup senang. Aku sangat merindukan saat-saat kita mengobrol, tertawa bersama. Sekarang, aku hanya bisa melihatmu dari jauh. Apakah kau juga sepeti itu? Kuharap begitu.
Mimpiku tadi sore membuatku teringat lagi padamu. Padahal, aku sudah mulai bisa melupakan harapan-harapanku padamu. Jadi, tolonglah. Jangan mengusik pikiranku lagi. Aku sudah cukup tenang sekarang. Aku hanya merasa perlu menuliskan semua yang kuketahui tentangmu dan tentang perasaanku padamu setelah sekali lagi kau berhasil mengaduk-aduk rasa di hatiku lewat mimpi. Selamat tinggal, pelangi cinta kedua-ku.



Regards,

=R=

Sunday, January 1, 2012

Menjelma Bersama Sang Waktu


Satu tahun yang terasa begitu cepat. Semua terasa seperti semilir angin yang berhembus pada suatu siang yang panas. Hanya sekejap mata, namun sangat berarti. Segalanya berkumpul menjadi satu, membentuk kesatuan yang selaras dalam harmoni kehidupan. Tawa, canda, tangis, haru, senang, dan sedih. Rasa yang tercampur dengan sempurna dan apik berkat kuasa-Nya. Sebuah kenikmatan tiada tara dengan hidup di dunia.
“Sudahkah kau bersyukur hari ini?” Ya, itu adalah kalimat yang selalu diucapkan oleh guru matematika sekaligus Wali kelasku sewaktu kelas sebelas. Beliau mengajarkan kepada kami (aku dan teman-temanku yang lain) agar selalu ingat dan bersyukur kepada Tuhan. Hhmmff, tanpa kusadari ternyata aku mulai merindukan masa-masa itu. Aneh juga kalau dipikir-pikir, karena belum ada setahun aku menjadi anak kelas dua belas yang selalu disibukkan dengan tugas-tugas, ulangan, pengulangan materi, try out, dan bla bla bla (plis deh nggak usah dibahas). Walau baru enam bulan, rasanya sudah seperti berabad-abad lamanya. Tapi, aku juga tahu bahwa semua itu akan berubah saat semester dua nanti. Semuanya akan berjalan begitu cepat, dan akhirnya masa putih abu-abu ini hanya akan menjadi sebuah kenangan indah yang tak kan pernah terlupakan (kecuali jika terserang amnesia *idiihhh amit-amit deh!!*). By the way, itu kan masih agak lama, jadi dilompatin aja. Ini kan tahun baru, aku nggak mau berelegi karena memikirkan perpisahan. Meskipun aku tahu, jika ada pertemuan pasti juga akan ada perpisahan.
“Apa saja yang sudah kau lakukan selama setahun penuh ini?” Pertanyaan itulah yang muncul dalam benakku ketika menjelang tahun baru. Uhm, sebenarnya banyyaaakkkk sekali hal yang telah kulakukan, sampai lupa, hehehe. Tapi keseharianku lebih banyak diisi dengan aktivitas belajar, ngurus blog-ku yang tercinta ini (meskipun yang ini agak terbengkalai *pengakuan nih*), dan curhat sama Mama tentang ini itu. Baca novel plus nonton film tetap berlanjut pastinya, walau nggak bisa sesering dulu.





Waktu dapat mempermainkan kita dengan mudah. Well, banyak hal telah berubah dalam kurun waktu satu tahun ini. Ada yang tidak ingin kuubah, tapi justru berubah dengan sendirinya. Sedangkan hal yang ingin kuubah sampai berjuang mati-matian justru tidak pernah berubah. Hidup memang rumit, satu-satunya hal yang bisa membantu hanyalah diri sendiri. Semula aku tak percaya. Tapi sekarang, aku mengalaminya sendiri.



Ternyata, semua memang bermula dan akan berakhir pada diri kita sendiri. Saat kita terjatuh, penyesalan akan datang dengan sendirinya. Padahal, tanpa kita sadari, hal itulah yang akan ‘membunuh’ pikiran dan hati kita secara perlahan-lahan. Hanya semangat untuk bangkit dan memulai semuanya dari awal lagi yang bisa menyelamatkannya. Namun, kita harus memulainya dengan hal yang tersulit―belajar untuk memaafkan diri sendiri. Ya, terkadang memaafkan diri sendiri justru terasa lebih sulit daripada memaafkan orang lain. Tapi jika pada akhirnya kau bisa melakukannya, percayalah―semuanya akan terasa lebih ringan dan mudah. Hidup adalah sebuah proses belajar, berjuang untuk bisa mencapai hal yang diinginkan, terkadang tersandung kerikil kecil dan terjatuh berulang kali, kemudian bangkit untuk berjuang lagi demi meraih impian dengan diiringi doa yang selalu dipanjatkan kepada-Nya. Dengan demikian, hidup akan terasa lebih berarti.




Di momen tahun baru ini, tanamkanlah prinsip bahwa tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu. Terwujud atau tidaknya, semua bergantung pada usaha dan kerja keras kita, kan? Cobalah untuk selalu berpikir positif. Karena, hal yang paling menakutkan adalah pikiranmu sendiri. Jangan biarkan ia mengendalikanmu, kau lah yang harus mengendalikannya. Pikirkan hal-hal yang ingin kau capai di tahun 2012. Dan berjuanglah untuk meraihnya. Hidup di dunia cuma sekali, kawan! Jangan sampai kau menyesali dan meminta hidup di dunia untuk yang kedua kalinya―yang tentu saja hal itu mustahil terjadi―hanya agar dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Pergunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, karena kita tidak selalu mendapatkan kesempatan kedua. And, I just wanna say, HAPPY NEW YEAR 2012!!! Semoga semuanya menjadi lebih baik dan berjalan sesuai dengan harapan dan keinginan kita.





Regards,

=R=

Cara Mengembalikan Akun BBM yang Dibajak atau Dihack (Terkena Hack)

Beberapa hari yang lalu saya mengalami kejadian yang kurang menyenangkan. Akun BBM saya dibajak :( Pertama kali tahu dari teman saya yang ...