Monday, January 30, 2012

Bayangan yang Memudar



Aku berjalan perlahan melewati tangga sekolah menuju lantai dua. Di tengah perjalanan, aku berpapasan denganmu. Aku hanya melirikmu sekilas, tak cukup berani untuk menyapamu. Tatapan matamu lurus, kosong, dan hampa. Aku menguatkan hati untuk tetap meniti tiap-tiap anak tangga itu. Sesampainya di lantai dua, aku melihat mereka. Saling memandang, tersenyum bahagia dengan mata yang berkaca-kaca. Air mataku tak bisa kutahan lagi, mendesak ingin keluar, hingga tenggorokanku terasa sakit saat aku berusaha menahannya. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari menuruni tangga seraya membiarkan semua luapan emosi itu keluar. Aku menangis. Tiba di lantai dasar, penglihatanku tertuju padamu. Di sanalah dirimu berada. Berdiri menjulang, sedang bercakap-cakap dengan salah seorang temanmu dengan ekspresi wajah yang sedang marah, atau kecewa? Tiba-tiba kau berpaling ke arahku, menatapku dengan dahi berkerut heran. Tanpa kusadari, kedua kakiku ini langsung saja berlari ke arahmu, dan kedua tanganku ini langsung memeluk tubuhmu erat. Awalnya kau bingung, aku bisa memakluminya. Namun tak lama kedua tanganmu mulai membalas pelukanku dengan hangat dan erat. Rasanya nyamaaann sekali.
“Tolong… huhuhuhu… tolongin aku. Hikz… hikz….” ucapku masih sesenggukan.
“Hei, tenanglah. Ada apa? Kenapa nangis?” ucapmu lembut.
“Itu… hikz… hikz… mereka… huhuhu….” aku tak sanggup menjelaskannya padamu.
Kau merenggangkan pelukanmu dan memegang kedua lenganku seraya menatapku lembut. “Kamu harus tenang dulu. Ikut aku yuk?” ajakmu seraya merengkuh bahuku dan menggiringku pelan, menjauhi tempat itu. Aku hanya bisa mengangguk pasrah dan mengikutimu.

Kedua mataku langsung terbuka, dengan kepala pening dan berdenyut-denyut sakit. Aku memandangi keadaan di sekelilingku. Di mana dia? Ucapku dalam hati. Tak perlu waktu yang lama bagiku untuk menyadarinya. Oh, sh*t!! Cuma mimpi. Aku menggeram kesal, lalu mengembuskan napas dengan berat. Oh, kumohon. Jangan datang lagi dalam mimpiku. Aku sudah cukup tersiksa saat melihatmu di sekolah setiap hari tanpa berani menyapamu. Aku tak sanggup. Perlahan, aku memaksa tubuhku untuk bangun dari posisi tidurku dan duduk di pinggiran tempat tidur . Kenangan itu berkelebat lagi dalam benakku. Hanya sebuah kenangan.
Hampir dua tahun yang lalu, saat kita masih sekelas (saat kelas 10). Aku selalu duduk di depan bangkumu. Waktu itu yang memilih tempat duduk memang bukan aku, tapi teman semejaku, karena aku memang selalu berangkat agak siang. Dia selalu memilih tempat duduk di pinggir, dekat jendela. Dan kau selalu duduk dibelakang kami, dengan teman semejamu, tentu saja. Awalnya kita tidak akrab, sangat jarang berbicara malah. Yah, karena aku selalu merasa canggung jika harus mengobrol dengan anak cowok. Tapi, lama-kelamaan kusadari juga kalau kau itu ternyata teman yang menyenangkan. Lucu, gokil, seru, dan… yah, sedikit keren (hahaha , aku tidak akan berani bilang seperti ini jika sedang berada dihadapanmu! :D).
Aku paling suka waktu kita diskusi tentang film. Yang paling seru waktu bahas film X-Men yang terbaru. Kau bersemangat sekali—sama sepertiku. Kita bisa tertawa lepas waktu itu. Ingin sekali rasanya mengulang saat-saat itu lagi. Tapi, tentu saja itu tidak bisa. Aku juga ingat sewaktu kau kebagian mengoreksi ulanganku (mapel apa ya waktu itu? Sepertinya bahasa Jawa atau bahasa Indonesia. Entahlah, aku sedikit lupa). Saat kutengok nilaiku, aku langsung merasa kecewa. Yahh, cuma dapet delapan puluh. Padahal targetku waktu itu harus bisa dapet sembilan puluh. Sepertinya kau menangkap rasa kecewa itu dalam ekspresi wajahku, karena kau langsung berkata, “Udah bagus kok, nggak pa-pa.” ucapmu seraya tersenyum manis yang kubalas dengan senyum kecut. Namun tak bisa kupungkiri hatiku sangat senang, karena kau bersedia menghiburku. Rasanya seperti ada ribuan bunga berwarna-warni memenuhi rongga hatiku (hehe, lebay ya?). Tak lupa tingkah lucumu saat sedang membersihkan kacamata yang kau pakai. Hahaha, selalu ada yang menggelikan saat kau melakukannya. Membuatku selalu tersenyum saat melihatnya. Aku menyukai wajahmu jika sedang memakai kacamata. Terlihat lucu, pintar, dan sedikit serius. Padahal kau itu orangnya rame, seru, suka bercanda, dan konyol juga.




Momen kenaikan kelas menjadi saat-saat yang paling suram bagiku. Bagaimana tidak? Kita pisah kelas. Begitu juga aku dengan ketiga sahabatku yang lain, kami semua beda kelas. Kau hanya melambaikan tangan dan tersenyum padaku sebelum masuk ke kelas barumu. Aku hanya membalas dengan senyum singkat. Di acara ultah sekolah, kau masih menyapaku (saat aku mebawa tumpeng yang superbart itu bersama beberapa orang temanku yang lain) dan bercanda sekilas denganku. Namun beberapa bulan kemudian, kau berhasil membuatku jatuh. Dan apakah kau tahu? Sakit sekali rasanya. Aku sedang ngobrol bersama dengan salah seorang sahabatku di depan kelas sepulang sekolah waktu itu. Tak lama, kau melintas bersama seorang cewek—tertawa-tawa bahagia bersama. Aku sudah hampir menangis waktu itu. Kau sempat melihatku sekilas—aku menyadarinya. Namun, kau tak memandangku lagi. Refleks, aku bertanya pada sahabatku. “Ehh, hmm… dia… udah jadian ya?” tanyaku seraya mengedikkan kepala ke arahmu. “Iya, baru beberapa hari yang lalu kayaknya.” jelas sahabatku. “Oh.” Apalagi yang bisa kukatakan?
Bagian tersulit saat mencintaimu adalah melihatmu mencintai orang lain... (Orange, by Windry Ramadhina)
Sejak itu aku merasa kau semakin menjauh. Menyapa pun tidak. Aku juga tidak berani menyapamu duluan, takut dikira macam-macam oleh pacar barumu itu. Namun aku tahu, kau selalu melirik ke arahku saat berjalan melewati kelasku. Aku hanya bisa diam. Hanya berselang dua minggu, aku dengar kabar bahwa kau sudah putus. Katanya, cewek itu yang memutuskan hubungan kalian. Aku ikut merasa sedih. Kau pasti sangat terluka. Suatu hari, saat aku berangkat sekolah dengan diantar oleh Oom-ku, tanpa sengaja kulihat kau berjalan di depanku, melewati halam samping sekolah, menuju kelas. Aku hanya bisa menatap punggungmu dengan sedih. Hmm, mau bagaimana lagi? Pernah suatu ketika kau yang berjalan dibelakangku. Aku menyadarinya, tapi aku tak berani menoleh padamu. Hanya lewat jendela kaca yang ada disampingkulah aku berani melihatmu—yang ternyata juga sedang mengawasiku. Aku langsung menunduk, dan mempercepat langkahku menuju kelas. Yah, aku memang menyedihkan, aku tahu. Sampai sekarang pun, kita tak pernah saling menyapa lagi. Kalaupun hanya bisa menjadi teman, aku sudah cukup senang. Aku sangat merindukan saat-saat kita mengobrol, tertawa bersama. Sekarang, aku hanya bisa melihatmu dari jauh. Apakah kau juga sepeti itu? Kuharap begitu.
Mimpiku tadi sore membuatku teringat lagi padamu. Padahal, aku sudah mulai bisa melupakan harapan-harapanku padamu. Jadi, tolonglah. Jangan mengusik pikiranku lagi. Aku sudah cukup tenang sekarang. Aku hanya merasa perlu menuliskan semua yang kuketahui tentangmu dan tentang perasaanku padamu setelah sekali lagi kau berhasil mengaduk-aduk rasa di hatiku lewat mimpi. Selamat tinggal, pelangi cinta kedua-ku.



Regards,

=R=

Saturday, January 14, 2012

Lirik Lagu Falling Tears (Tears are Falling) by ShinJae Ost.49 Days (dan Terjemahannya)

(:SMILE:)


Yi Soo dan Yi Kyung piknik nih!
(andaikan yang jadi Yi Kyung itu aku, haha.. *ngarep.net* ^.^)



Whoaa.. Ji Hyun dibonceng Scheduler a.k.a Malaikat Maut
Aku juga mauu ddoonnkk!!! *cemburu-berat*


Lagu ini jadi back-song waktu scene Yi Kyung dan Yi Soo sedang berpiknik ria di sebuah padang rumput yang luas. Scene yang kedua, sewaktu Ji Hyun dianter pulang pake motor sama Yi Soo yang udah jadi Scheduler a.k.a Malaikat Maut. Trus sewaktu Yi Soo akhirnya bisa bertemu dengan Yi Kyung, tetapi akhirnya mereka berpisah di sebuah sungai/danau/pantai (aku kurang tahu) dan Yi Soo membuang cincin mereka. Dari semua soundtrack drama Korea 49 Days, aku emang paling suka sama lagu ini *sampe bisa bikin aku nangis T.T*. Liriknya dalem banget euy!!! ShinJae juga telah berhasil menyanyikan lagu ini dengan penuh penghayatan, jadi pesan-pesan dari lagu ini nyampe ke hati pendengarnya. Nggak percaya? Download aja lagunya di sini, dan ini dia lirik lagunya... ^.^


niga sumswinda niga salgoitda nae gaseumsogeseo
simjangi ullinda niga geotgoitda nae gaseumsogeseo

cheoeum naege watdeon nalbuteo geuriumi doeeo neon nareul bureunda
jakku nunmuri nanda sirin nunmuri nanda

gaseum apaseo neo ttaemune apawaseo
niga geuriun naren itorok geuriun naren

bogo sipeo tto nunmuri nanda
mogi meinda kkeutnae samkyeonaenda saranghandan geu mal

barame ttuiunda meolli bonaebonda bogo sipdan geu mal
chama jeonhal suga eopdeon mal gin hansumi doeeo gaseume heureunda

jakku nunmuri nanda sirin nunmuri nanda
gaseum apaseo neo ttaemune apawaseo

niga geuriun naren itorok geuriun naren
bogo sipeo tto nunmuri nanda

jakku heulleonaerinda niga heulleonaerinda
gaseume chaseo gaseume niga neomchyeoseo

apeun nunmuri doenda geuriun nunmuri doenda
nae gaseume neon geureoke sanda

jakku nunmuri nanda sirin nunmuri nanda
saranghanikka sarangeun nunmurinikka

neoreul gyeote dugodo ireoke gyeote dugodo
motdahan mal neoreul saranghanda

TERJEMAHAN by Alfihawke
kau bernafas, kau tinggal, di dalam hatiku
Hatiku menangis, kau berjalan di dalam hatiku

Hari sejak kau berada di samping ku, kau selalu ada di dalam pikiranku, memanggil ku
Air mata dingin tetap mengalir, jatuh terus menerus

Hatiku sakit karena kau dan ini tetap menyakitkan
Hari ketika aku merindukan mu, hari seperti ini, karena aku kehilangan mu

Air mataku kembali mengalir
Aku tersedak kata-kata, bahkan menelannya, kata-kata “Aku mencintaimu”

Melancar diatas angin, terbang jauh jauh, aku merindukan kata-kata yang kau katakana
Kata-kata yang tidak akan bisa kusampaikan padamu, menjadi menghela napas panjang dan mengalir melalui hatiku

Air mata dingin tetap mengalir, jatuh terus menerus
Hatiku sakit karena kau dan ini tetap menyakitkan

Hari ketika aku merindukan mu, hari seperti ini, karena aku kehilangan mu
Air mataku kembali mengalir

Kau yang selalu terlihat baik di depan ku, ini memenuhi hatiku, memenuhinya
Menjadi air mata dari sakit hatiku, air mata kerinduan, kau tetap tinggal di dalam hatiku seperti itu

Air mata dingin tetap mengalir, jatuh terus menerus
Karena aku cinta kamu, karena air mata itu adalah air mata cinta

Bahkan jika kau ada di sampingku dan tidak dapat mengatakan kata itu
Aku sungguh cinta kamu


Gimana? Sedih ya lagunya, tapi tetep sweet kok, haha. :D
I hope you enjoy it, see ya!!


source



Regards,


=R=

Sunday, January 1, 2012

Menjelma Bersama Sang Waktu


Satu tahun yang terasa begitu cepat. Semua terasa seperti semilir angin yang berhembus pada suatu siang yang panas. Hanya sekejap mata, namun sangat berarti. Segalanya berkumpul menjadi satu, membentuk kesatuan yang selaras dalam harmoni kehidupan. Tawa, canda, tangis, haru, senang, dan sedih. Rasa yang tercampur dengan sempurna dan apik berkat kuasa-Nya. Sebuah kenikmatan tiada tara dengan hidup di dunia.
“Sudahkah kau bersyukur hari ini?” Ya, itu adalah kalimat yang selalu diucapkan oleh guru matematika sekaligus Wali kelasku sewaktu kelas sebelas. Beliau mengajarkan kepada kami (aku dan teman-temanku yang lain) agar selalu ingat dan bersyukur kepada Tuhan. Hhmmff, tanpa kusadari ternyata aku mulai merindukan masa-masa itu. Aneh juga kalau dipikir-pikir, karena belum ada setahun aku menjadi anak kelas dua belas yang selalu disibukkan dengan tugas-tugas, ulangan, pengulangan materi, try out, dan bla bla bla (plis deh nggak usah dibahas). Walau baru enam bulan, rasanya sudah seperti berabad-abad lamanya. Tapi, aku juga tahu bahwa semua itu akan berubah saat semester dua nanti. Semuanya akan berjalan begitu cepat, dan akhirnya masa putih abu-abu ini hanya akan menjadi sebuah kenangan indah yang tak kan pernah terlupakan (kecuali jika terserang amnesia *idiihhh amit-amit deh!!*). By the way, itu kan masih agak lama, jadi dilompatin aja. Ini kan tahun baru, aku nggak mau berelegi karena memikirkan perpisahan. Meskipun aku tahu, jika ada pertemuan pasti juga akan ada perpisahan.
“Apa saja yang sudah kau lakukan selama setahun penuh ini?” Pertanyaan itulah yang muncul dalam benakku ketika menjelang tahun baru. Uhm, sebenarnya banyyaaakkkk sekali hal yang telah kulakukan, sampai lupa, hehehe. Tapi keseharianku lebih banyak diisi dengan aktivitas belajar, ngurus blog-ku yang tercinta ini (meskipun yang ini agak terbengkalai *pengakuan nih*), dan curhat sama Mama tentang ini itu. Baca novel plus nonton film tetap berlanjut pastinya, walau nggak bisa sesering dulu.





Waktu dapat mempermainkan kita dengan mudah. Well, banyak hal telah berubah dalam kurun waktu satu tahun ini. Ada yang tidak ingin kuubah, tapi justru berubah dengan sendirinya. Sedangkan hal yang ingin kuubah sampai berjuang mati-matian justru tidak pernah berubah. Hidup memang rumit, satu-satunya hal yang bisa membantu hanyalah diri sendiri. Semula aku tak percaya. Tapi sekarang, aku mengalaminya sendiri.



Ternyata, semua memang bermula dan akan berakhir pada diri kita sendiri. Saat kita terjatuh, penyesalan akan datang dengan sendirinya. Padahal, tanpa kita sadari, hal itulah yang akan ‘membunuh’ pikiran dan hati kita secara perlahan-lahan. Hanya semangat untuk bangkit dan memulai semuanya dari awal lagi yang bisa menyelamatkannya. Namun, kita harus memulainya dengan hal yang tersulit―belajar untuk memaafkan diri sendiri. Ya, terkadang memaafkan diri sendiri justru terasa lebih sulit daripada memaafkan orang lain. Tapi jika pada akhirnya kau bisa melakukannya, percayalah―semuanya akan terasa lebih ringan dan mudah. Hidup adalah sebuah proses belajar, berjuang untuk bisa mencapai hal yang diinginkan, terkadang tersandung kerikil kecil dan terjatuh berulang kali, kemudian bangkit untuk berjuang lagi demi meraih impian dengan diiringi doa yang selalu dipanjatkan kepada-Nya. Dengan demikian, hidup akan terasa lebih berarti.




Di momen tahun baru ini, tanamkanlah prinsip bahwa tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu. Terwujud atau tidaknya, semua bergantung pada usaha dan kerja keras kita, kan? Cobalah untuk selalu berpikir positif. Karena, hal yang paling menakutkan adalah pikiranmu sendiri. Jangan biarkan ia mengendalikanmu, kau lah yang harus mengendalikannya. Pikirkan hal-hal yang ingin kau capai di tahun 2012. Dan berjuanglah untuk meraihnya. Hidup di dunia cuma sekali, kawan! Jangan sampai kau menyesali dan meminta hidup di dunia untuk yang kedua kalinya―yang tentu saja hal itu mustahil terjadi―hanya agar dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat. Pergunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya, karena kita tidak selalu mendapatkan kesempatan kedua. And, I just wanna say, HAPPY NEW YEAR 2012!!! Semoga semuanya menjadi lebih baik dan berjalan sesuai dengan harapan dan keinginan kita.





Regards,

=R=

Friday, December 30, 2011

Hujan Mempermainkan Kita....


Seharian yang terasa begitu menyenangkan dan berarti bersama Replika Angan-angan. Apakah kau sudah sampai di rumah dengan selamat? Hmm… I hope so ^_^. Awalnya kita janjian di PU hanya untuk pinjam novel angkatan 45-an (sebagai bahan tugas dari guru mapel bahasa Indonesia kita) dengan kartu anggota milikku, kan? *dasar, kau itu tak pernah berubah―selalu nggak modal, huuuu* Tapi yah, tak apa lah, demi dirimu *holoh*. Setelah dapet buku yang dicari, bukannya pulang, kita malah ngegosip dulu di PU yang mana banyak terdapat tulisan “Berhenti bicara, banyak membaca* tapi kita tetap mengabaikannya. Kita memang duo paling heboh, kurasa. Terlebih lagi jika menyangkut pembahasan novel, hahaha… satu kelas pada geleng-geleng kepala semua kalau udah lihat kita bahas novel. Tak lama, muncul temanku yang kelasnya bertetanggaan sama kelas kita. As you know, dia minta diajarin ngedit blognya, ohh aku merasa tersanjung, sepintar itukah diriku ini?? Hehehehe… *mulai narsis nih* maapph-maapph. Back to the story. Ditengah memberikan kursus singkat, perutku mulai keroncongan―sama seperti perutmu. *ngaku aja deh loe* So, kita pergi ke tempat makan, di sana kita ketemu lagi sama salah satu sahabatku, si Ani yang hebooh itu, wkwkwkwk. Perut kenyang, waktunya pulang. Ehh.. tak dinyana, hujan turun tanpa permisi dan nggak lihat-lihat sikon dulu pula. Huh.. akhirnya kita 'terjebak' di SS. Jadilah kita saling curhat, seraya menunggu langit selesai menumpahkan beban airnya ke bumi.




Aku tak tahu bagaimana awal mulanya. Kau, atau aku. Yang kutahu kita telah sama-sama tenggelam dalam cerita masing-masing. A story about love, of course, hehe. Aku selalu suka hujan. Suasananya yang tenang dan hawanya yang dingin. Tetes air itu selalu mengingatkanku pada seseorang *you-know-who* entah kenapa, saat hujan turun, aku selalu mengingatnya, tak bisa kuhapus dari pikiranku. Tak lama, aku sudah mengatakan apa yang tergambar di otakku padamu. Ya… dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca dan wajah yang memerah *kau bilang wajahku sudah seperti buah delima * itulah aku berkisah. Ceritaku mengalir deras, sama seperti hujan diluar, kurasa.
Dan kau memulai kisahmu sendiri. Aku mendengarkannya dengan saksama, dengan hati yang dapat merasakan apa yang kau rasakan. Aku sudah tahu sejak lama kalau kita itu memiliki nasib yang sama. Tidak bisa menerima orang lain, karena ketidakpastian di masa lalu yang belum tuntas. Mungkin itu juga yang membuatku merasa nyaman berteman denganmu. Karena kau juga bisa memahami perasaanku, sama seperi aku yang juga bisa memahami perasaanmu. Siang tadi, kita ‘terhempas’ bersama ke dimensi masa lalu yang tidak bisa kita ulangi lagi. Dimensi yang hanya bisa dimasuki dengan pikiran, atau dengan melewati alam bawah sadar. Bersama, kita mengenang memori indah―sekaligus juga menyedihkan―itu bersama. Lama juga kita bercerita, sampai-sampai aku merasa tidak enak setelah berulang kali kita dipelototi oleh ibu-ibu dan para pelayan di SS itu, mereka pasti berpikir, “Dua bocah itu udah selesai makan kok nggak keluar-keluar sih? Banyak yang mau duduk di situ, ini kan jam makan siang!” Hahaha… kita cuma bisa nyengir. Yaelah Bu, nggak liat apa diluar hujan deras banget gitu? Akhirnya, kita keluar juga karena nggak tahan sama lirikan maut mereka, hawhawhaw :) . Sampai di luar, tentu saja masih hujan, tatapan kita tertuju pada warnet yang ada di seberang. Ya udah deh, kita sepakat untuk nge-net sambil berteduh di sana. Sialnya, tuh computer leeemmmoootttt amat sih??? Tahu gitu mending tadi bawa modem sendiri aja. Lumayan sih, bisa berteduh. Setelah capek ngobrol sana-sini nggak berujung, akhirnya hujan reda juga. Yipey!! Bisa pulang nih. Namun ternyata hujan masih mau ngerjain kita lagi. Sewaktu kita ngambil motor di parkiran, hujan turun lagi. Lebih deras pula!!! Kita Cuma bisa saling nyengir―lagi―dan apa boleh buat, pakai mantel kalau mau cepet sampe rumah. Dan, begitulah kita, pulang ke rumah seperti ‘orang-orangan sawah berjalan’ karena memakai mantel hujan yang ekstra besar itu.



Regards,

=R=

Monday, December 26, 2011

Download Free dan Lirik Lagu Kesedihanku by Sammy Simorangkir (Ost. Cinta Sejati)

Poster Sinetron Cinta Sejati


Cover Opening


Chelsea Olivia sebagai Saffa (Siti)


Evan Sanders sebagai Juna (Arjuna)



This time, aku mau share lirik lagu Kesedihanku by Sammy Simorangkir yang menjadi original soundtrack sinetron Cinta Sejati yang tayang di salah satu stasiun TV swasta. You know what? Dulu aku sama sekali NGGAK SUKA sama sinetron Indonesia yang menurutku jalan ceritanya sama sekali nggak bermutu. Namun, setelah SECARA NGGAK SENGAJA aku nonton sinetron ini, aku langsung suka plus jadi pengen nonton teruuuss (meskipun udah ketinggalan beberapa episode). Ceritanya lumayan bagus, serta akting Chelsea dan Evan (yang penuh dengan adegan konyol dan lucu) patut diacungi jempol karena terlihat sangat natural dan bisa membawa penonton masuk ke dalam cerita. Tapi, sebelumnya aku mau ceritain dulu sedikit sinopsis sinetron ini. Boleh yaa?? Boleh doonnkkk *idih, maksa amat*


Sinopsis
Siti dan Arjuna adalah dua orang anak jalanan yang bersahabat. Arjuna selalu menjaga Siti. Namun, suatu hari mereka terpisah. Sebelum terpisah, Arjuna dan Siti telah berjanji jika suatu saat mereka terpisah, maka mereka akan pergi ke sebuah taman yang sering mereka datangi bersama agar dapat bertemu lagi. Arjuna memberikan sebuah topi kepada Siti agar ia bisa mengenalinya. Beberapa tahun kemudian, mereka berdua telah beranjak dewasa setelah diasuh oleh orang tua angkat masing-masing. Sekarang, Siti mempunyai nama panggilan Saffa, sedangkan Arjuna dipanggil Juna. Keduanya sering pergi ke taman itu agar dapat bertemu kembali, tapi kenyataannya mereka tidak pernah bertemu lagi, apalagi karena Saffa telah menghilangkan topi pemberian Juna secara tidak sengaja. Mereka terus mencari satu sama lain, dan tidak menyadari bahwa orang yang selama ini mereka cari ada di sekitar mereka, karena sekarang Saffa telah bekerja sebagai asisten pribadi Juna di perusahaan milik orang tua angkat Juna. Tetapi, saat di kantor, keduanya selalu bertengkar seperti Tom and Jerry aja. Kisah ini semakin rumit setelah Bagas (adik Juna yang juga anak angkat) jatuh cinta pada Saffa, sedangkan Luna (adik Saffa) jatuh cinta pada Juna. Belum lagi persoalan masa lalu antara kedua orang tua angkat Saffa dan Juna yang pasti akan sangat mempengaruhi kisah cinta mereka. So, gimana yah kelanjutannya? Tonton aja sendiri. Hehehe *peace*

Kamu bisa download lagunya di sini. Okey, langsung aja cekidot lirik lagunya...

Sepinya hari yang ku lewati
Tanpa ada dirimu menemani
Sunyi ku rasa dalam hidupku
Tak mampu ku tuk melangkah

Masih ku ingat indah senyummu
Yang selalu membuatku mengenangmu
Terbawa aku dalam sedihku
Tak sadar kini kau tak di sini

Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini

Masih ku ingat indah senyummu
Yang selalu membuatku mengenangmu
Terbawa aku dalam sedihku
Tak sadar kini kau tak di sini

Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini

Yang seperti ini

Engkau masih yang terindah
Indah di dalam hatiku
Mengapa kisah kita berakhir
Yang seperti ini

Hampa kini yang ku rasa
Menangis pun ku tak mampu
Hanya sisa kenangan terindah
Dan kesedihanku

Hiks.. dalem banget liriknya, suara Sammy juga mendukung banget buat nyanyiin lagu ini. Sip deh! Semoga kalian juga suka sama lagunya.



Regards,


=R=

Saturday, October 22, 2011

They Say, First Love Never Dies. For Me, it's ....

This picture was taken from here.

"Ya Tuhan, terima kasih telah mempertemukan aku dengan dia lagi."

Kalimat itulah yang kuucapkan dalam hati ketika aku bisa bertemu lagi denganmu siang itu. Ketika kulihat tubuh tegap dan tinggi milikmu yang terselubung jaket hitam dari kejauhan, aku seperti akan jatuh pingsan saja (hahaha, keterlaluan kah?). Kau tidak pernah tahu kalau setiap pulang sekolah, aku selalu mengambil rute pulang yang melewati rumahmu. Hah, aku jadi merasa kasihan pada diriku sendiri yang kini kusadari telah menjadi
stalker. Poor me. :'(

Awalnya aku tidak yakin bahwa yang kulihat itu adalah kamu. Aku sempat berpikir bahwa aku mungkin mulai menjadi gila dan membayangkan wajah setiap orang yang kutemui itu adalah wajah manis milikmu yang tak pernah bosan kupandang. Namun, keraguanku menghilang tanpa bekas ketika aku mulai memelankan laju motorku--agar aku mengimbangi kecepatanmu yang sedang berjalan kaki--dan menoleh singkat kepada wajah yang sangat kukenali sebagai wajahmu. Sungguh, rasanya aku ingin melompat-lompat kegirangan karena bisa melihatmu lagi. Tapi tentu saja hal itu tak bisa kulakukan karena aku sedang mengendarai motor. Seperti ada berjuta-juta kunang-kunang yang memenuhi kepalaku saat kau menatapku balik. Dan aku bersumpah, ada sesuatu yang bergejolak di dalam perutku. (jangan mikir yang
jorse ya!!)

Ohh, aku baru menyadari bahwa ternyata aku merindukanmu lebih dari yang selama ini kupikirkan. Kerutan nampak di dahimu ketika menatapku yang hanya mampu mengucapkan, "Hai, Y*bip--sensor*" seraya berusaha menampakkan senyuman terbaikku padamu. Sebelum kau merespon sapaanku, aku sudah tancap gas karena takut aku akan benar-benar pingsan jika terlalu lama ada di dekatmu. Sekujur tubuhku sudah panas-dingin dan berkeringat, pula. Ketika jarak yang memisahkan kita sudah cukup jauh, dan aku sudah berbelok ke gang berikutnya, aku mulai menyadari ketololanku. Mungkin aku adalah perempuan paling bodoh sedunia (kalau menyangkut urusan yang satu ini, kurasa) karena telah 'kabur' dari hadapannya. Kapan lagi aku bisa bertemu dengannya????? STUPID!! STUPID!! SUPER DOUBLE TRIPLE STUPIDDDD!!! omelku dalam hati. Tapi, jika aku lanjut mengobrol denganmu pun tidak akan ada gunanya, karena aku tahu kamu telah memiliki dan dimiliki oleh 'seseorang yang berharga bagimu'. Bagaimana pun, aku tidak mau mengusik seseorang yang telah mempunyai kekasih. Kau tahu? Hanya dengan melihatmu saja, aku sudah cukup bahagia.


Tatapan matamu yang selalu teduh, rambut kriwilmu yang lucu, tubuhmu yang tinggi dan tegap,serta senyumanmu yang selalu menenangkan. Aku tahu, beberapa hal tentang dirimu itu akan selalu tercatat rapi dalam Hippocampus-ku. Pertemuan denganmu siang itu membawa pikiranku berkelana ke masa-masa saat kita masih satu sekolah. Masih sekelas. Dua tahun bersamamu kurasa berlalu begitu cepat. Aku ingat betul perkataan salah seorang teman sekelas kita si L--yang duduk di depan mu, "Hei, Rahma, Y*bip--sensor* suka sama kamu, loh!! Hehehe..." Aku hanya bisa bengong dan menganggap bahwa L hanya bercanda. Yang dapat kulakukan selanjutnya hanya tersenyum padamu dan L seraya berkata, "Ehh?? Masa sih?? Bisa aja deh." Kulihat L sudah bersiap-siap akan mengatakan sesuatu ketika kau--dengan muka yang mulai memerah--mulai menarik-narik bajunya dan menyuruhnya untuk diam. L akhirnya diam juga setelah kau pelototi seperti itu, namun aku melihat L masih berusaha menahan tawanya sekuat tenaga. Ketika melihat ekspresi wajahmu yang menjadi supergugup saat memandangku, aku mulai berpikir apakah mungkin yang baru saja dikatakan L padaku itu benar? Sambil membawa segudang pertanyaan di dalam benakku, aku mulai memerintahkan kedua kakiku untuk berjalan kembali menuju ke kursiku. Baru beberapa langkah, kau sudah memanggilku lagi, "Rahma...??" Suaramu sarat akan keraguan dan ketidakpastian. "Kenapa?" balasku singkat. Kau terlihat bingung sesaat sebelum berkata, "Ehh, enggak jadi deh." Aku hanya bisa mengangkat kedua bahuku, dan mulai berjalan kembali. Dan sampai sekarang aku tak pernah tahu bagaimana perasaanmu yang sebenarnya padaku. Sahabatkah? Seseorang yang kau anggap spesial kah? Atau memang hanya teman biasa kah? Hmmfff, ego ku sebagai seorang wanita membuatku tak pernah menanyakan hal itu padamu. Kenyataan bahwa kau adalah sepupu dari sahabatku sejak SD, tidak membantu apa pun dalam perkembangan hubungan kita, karena aku memang tidak berani mengaku padanya tentang perasaanku padamu. Aku tidak menyesal belum pernah menjadi orang yang spesial bagimu, dan aku merasa cukup senang pernah mengenalmu.

However, thanks Y, sudah memberiku banyak kenangan tentangmu. Thanks juga kamu telah bersedia memberikan 'warna' yang lain di kehidupanku. Perlu kau ketahui, setelah pertemuanku denganmu--yang cukup singkat-- siang itu, aku memutuskan untuk berhenti melintasi jalan depan rumahmu lagi. Aku nggak mau terus-menerus menyiksa diriku selamanya. Aku ingin merasa lebih tenang dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Aku harus GO AHEAD. Akan selalu ada Pelangi Cinta Kedua, Pelangi Cinta Ketiga, dan seterusnya, kan? Aku mulai mencoba berpikir optimis dan rasional.
Aku percaya, kalau kita ditakdirin bareng, kita pasti bakalan bareng. Meanwhile, rasa ini cuma bisa aku simpen di dalam hati. (
Ups! Minjem quote-nya KKK 2011, bentar doang. :D)
Terakhir, semoga kamu selalu bahagia bersama 'dia'....
They say, first love never dies. For me, it's definitely TRUE.
Goodbye, my first love, and thank you for everything.... :) :) :)

Tautan

Regards,


=R=

Saturday, September 17, 2011

Kenangan Berbingkai Harapan

This picture was taken from here

Mendung menggantung di langit saat kepergianmu pagi itu. Mungkin langit tahu betul isi hatiku yang sebenarnya, sehingga ia bersedia menemaniku yang sedang menangis di dalam hati. Malam sebelum kau pergi, aku telah menumpahkan semua emosi yang beraura negatif itu diam-diam, pelan, dan tanpa suara−meskipun rasanya sungguh susah. Ketika pagi menyapa, usahaku itu tak sia-sia karena aku berhasil tersenyum di depanmu, melepas kepergianmu dengan wajah yang seolah-olah menunjukkan ekspresi *aku-baik-baik-saja* meskipun sebenarnya kesedihan yang cukup tebal sedang menyelimuti hatiku. Beberapa helai kenangan bersamamu−yang menurutku cukup singkat itu−kembali memenuhi rongga-rongga dalam kepalaku. Menyusun beberapa kerangka ingatan, membuat beberapa siluet bayanganmu, dan akhirnya menampakkan sosokmu dalam berbagai ekspresi yang akan selalu tersimpan rapi di memori otakku. Kau yang sedang tersenyum, marah, khawatir, dan ekspresi lucumu ketika sedang bermain gitar milikku yang jarang sekali kusentuh.


Hari pertama saat aku masuk sekolah tanpa kehadiranmu, rasanya ada yang berbeda. Ada yang hilang. Ada yang kosong. Semuanya tampak begitu nyata−bahwa kau tak lagi bersamaku. Aku yang dulu merasa biasa-biasa saja ketika berangkat ke sekolah sendirian, kini merasa aneh karena kau tak lagi ada. Tanpa kusadari, aku telah terbiasa berada di atas boncengan kuda bermesin itu dengan kau sebagai pengendalinya. Aku telah terbiasa memperhatikan gedung-gedung itu dan membiarkan angin pagi yang sejuk membelai pelan wajahku, tanpa harus menatap lurus pada jalanan lagi. Aku percaya, jika kau yang memegang kendali, semuanya akan baik-baik saja.

Kau, yang selalu melindungiku.
Kau, yang masuk dalam daftar nama orang-orang terpenting dalam hidupku.
Kau, yang juga mengajariku tentang banyak hal.
Kau, yang selalu menemaniku menonton film kesukaanku hingga larut malam.
Kau, yang akan berteriak heboh jika tim sepakbola jagoanmu berhasil menjebol gawang lawan.
Kau, yang selalu mengiringiku bernyanyi dengan sebuah gitar.
Kau, yang tak pernah mengeluh ketika harus menungguku keluar dari gerbang sekolah, bertarung melawan cuaca yang panas.
Kau, yang tersenyum jail ketika melihatku cemberut setelah kau berkata, “Kalau mau belajar main gitar, kukunya karus pendek. Besok dipotong dulu ya kukunya, baru deh aku ajarin main gitar.”
Kau, yang tidak pernah merasa takut melakukan sesuatu, apabila sesuatu itu adalah hal yang benar.
Kau, yang kurasa lebih dekat denganku daripada Papa yang jarang sekali kutemui karena sibuk bekerja di luar kota.

Aku ingat persis wajah cowok iseng itu−yang menjadi agak-agak takut bercampur heran, saat kau meraungkan amarahmu lewat gas kuda bermesin itu. Kau membalas raungan keras motor modif-an milik cowok itu dengan gas motormu−yang tak kalah kerasnya. Kau sama sekali tak tahu, bahwa aku sekuat tenaga menahan tawa saat melihat cowok tengil itu masih melongo takjub walaupun sudah terentang jarak beberapa meter yang telah memisahkan kita. Hahaha… tentu saja kau tidak menyadarinya, karena kau masih sibuk menggerutu pelan sampai tiba di depan rumah.

Tanpa kau sadari, kau telah menjadi orang pertama yang mendukung cita-cita dan impianku sejak kecil, hanya dengan mengatakan, “Tulisanmu bagus. Kamu nggak cocok jadi dokter, lebih cocok jadi penulis.”
Beberapa kata darimu itu membuatku lebih termotivasi untuk mewujudkan impianku, menjadi seorang penulis. Namun sepertinya, hanya kau yang setuju jika aku nanti memilih jurusan Sastra saat kuliah. Mungkin, aku nanti memang tidak akan mengambil jurusan Sastra. Tapi kau tahu? Aku tidak akan pernah berhenti menulis. Menulis adalah kebahagiaanku, dan sepertinya kau menyadari hal itu.

Dua minggu itu terlalu cepat berlalu bagiku. Aku sadar, kau harus kembali ke pulau penghasil timah terbesar di Indonesia itu untuk memenuhi tugas dan kewajibanmu. Saat Mama membangunkanku dan berkata bahwa kau ingin berpamitan sebelum pergi, mataku langsung terbuka. Dengan mata yang masih agak memerah, kusibakkan selimut tebalku dan berjalan secepat mungkin ke teras rumah. Aku ingat langkahku yang sempoyongan karena nyawaku belum sepenuhnya terkumpul pagi itu. Kulihat sekilas, jagoan kecilmu itu sama sekali tidak menangis saat kau pergi. Dan, buah hatimu yang satu lagi−yang sangat hobi berdandan meskipun baru kelas 4 SD−justru hanya cengar-cengir seraya menatapmu.

Aku ingat betul, ekspresimu yang berpura-pura akan jatuh pingsan sambil menutup lubang hidung saat kau selesai mencium kedua pipiku sebelum kepergianmu. Aku hanya menonjok bahumu pelan, tahu bahwa kau sedang bercanda (awas kalau memang betulan!!! :p). Tapi, aku juga tidak bisa menyalahkanmu, karena aku memang belum sempat cuci muka atau gosok gigi waktu itu. ;)

Saat aku hendak berangkat ke sekolah setelah melepas kepergianmu pagi itu, aku melihat jagoan kecilmu menangis diam-diam. Kedua matanya sampai memerah, namun ia menangis tanpa suara−mungkin karena takut dibilang banci ‘anak cowok kok nangis’. Tanpa kusadari, seseorang telah berada disampingku.
Dengan wajah polos tanpa dosa, ia bertanya padaku, “Kakak, kenapa Mas Fajar nangis?” ucapnya pelan yang langsung dibalas dengan tatapan heran dariku.
“Papanya kan udah pulang, ya dia sedih lah. Emang kamu nggak sedih? Kok nggak nangis?” tanyaku heran.
“Nggak ah. Ngapain nangis? Kata Mama, kalau Papa pulang nggak boleh ditangisin.” jawabnya penuh dengan ketegaran. Wah, wah, wah. Aku sampai terharu mendengarnya, kemudian aku tersenyum dan mengacak-acak sedikit rambutnya yang telah tersisir rapi. Ia langsung cemberut, dan balik ke meja dandan lagi. Hahaha… ya ampun, baru kelas 4 SD aja udah ganjen amat tuh bocah. Gimana kalau udah gede coba? Tapi dia pantes loh ditiru. Maksudku ketegarannya yang ditiru, bukan ganjennya. =.=”

Selamat jalan Om… sampai jumpa di libur Lebaran tahun depan−atau mungkin tahun depannya lagi. Aku berharap, saat sang waktu telah mempertemukan kita lagi nanti, aku telah menjadi seseorang yang lebih dewasa, dan dapat mewujudkan harapan-harapan yang ditanamkan olehmu, Mama, Papa, Nenek, dan semua orang yang kusayangi dan yang menyayangiku.
:) :) :)



Regards,

=R=

Cara Mengembalikan Akun BBM yang Dibajak atau Dihack (Terkena Hack)

Beberapa hari yang lalu saya mengalami kejadian yang kurang menyenangkan. Akun BBM saya dibajak :( Pertama kali tahu dari teman saya yang ...